Langsung ke konten utama

The Power of Book : “Cari Alasan Bolos @Monday?” by Giokni

Apakah kamu sedang mencari alasan untuk bolos di hari senin? Memang hari senin semenyebalkan itu, jadi kamu ingin menghindarinya, benarkah demikian teman-teman pembaca? Memang sih, weekend  terasa sangat cepat berakhir sedangkan kamu masih ingin menikmati hari santai itu, tapi kamu harus memulai kembali aktivitas dan merasa berat untuk mengawali hari seninmu. Maka, aku rekomendasikan buku ini.

Buku yang berjudul “Cari Alasan Bolos @Monday?” karya Giokni ini mungkin bisa membantumu. Dari judulnya, orang yang melihat di rak toko buku pasti menganggap buku ini berisi tips & trik yang bisa dijadikan alasan bolos di hari senin. Karena tertarik maka dibelilah buku ini. Dan ya, kamu tertipu! Aku juga awalnya, haha. Diluar dugaan ternyata isinya tidak sesuai ekspetasi, kamu tidak akan menjumpai tips & trik untuk membolos dan plot twist yang terjadi, kamu jadi tidak punya alasan lagi untuk membolos setelah membacanya. Maaf, aku telah merekomendasikan buku yang tidak kamu harapkan di awal.

Buku bergenre self improvement ini sangatlah menggelitik para pembacanya. Buku yang bercover warna hijau dan beberapa ilustrasi di dalamnya, mendukung untuk menambah minat membaca sehingga pembaca tidak bosan dibuatnya karena tidak hanya cetakan huruf saja. Di sini Giokni menampilkan banyak sekali ide dan resource-nya, tentunya dengan bahasa yang ringan. Mulai dari permasalahan hidup yang dijadikan pengantar hikmah yang diambilnya. Maka sangat mudah dipahami dan diingat karena memang relate di kehidupan nyata.

Disini aku melihat bahwa tidak ada yang sia-sia, baik masalah sepele atau berat, sedih – senang, dikecewakan – dibahagiakan, kegagalan – keberhasilan atau sedang melihat objek saja pasti ada yang bisa diambil hikmahnya. Misal dalam buku ini ada topik yang membahas tentang teko dan cawan. Giokni yang melihat realitas menuang teh dari teko ke cawan, dan apa yang diambil? Apakah cawan yang berisi teh? Bukan!

Ia menjadikan analogi dari realitas menuang teh yaitu memberi dan menerima, seperti guru dengan murid, coach dengan traine, teman dengan teman yang saling berbagi sudut pandang maupun pengalaman dan sebagainya. Memberikan sumber daya yang dimiliki untuk orang yang mau menerima. Dan menjadi orang yang menerima pembelajaran dengan senang hati. Pesan Giokni adalah “Bukankah sesungguhnya kehidupan kita semestinya seperti Teko dan Cawan? Jadilah Cawan kosong untuk menerima dan menampung semua pembelajaran. Namun, jangan lalai untuk menjadi Teko yang selalu menuang dan berbagi ilmu/pengalaman/ketrampilan”. Bagaimana? Kali ini aku tidak berbohong (salam 2 jari).

Dan masih banyak topik yang dibahas dan membuat pola pikir kita akan hari senin bisa berubah, yang awalnya sangat buruk menjadi baik, dan yang biasa aja menjadi lebih baik. Kita akan termotivasi dan terbangun dari keterpurukan perasaan yang tidak nyaman. Selain merubah pola pikir, disini ada solusi dari setiap permasalahan dalam topik yang dibahas dan membuat kita lebih yakin akan topik bahasannya. Melanjutkan topik teko dan cawan, Giokni menyarankan kita untuk membuat daftar yaitu Teko (sumber pembelajaran darimana dan apa) bagi kita yang menerima. Dan daftar lain Teko (kelebihan/pembelajaran apa yang diberikan) dan Cawan (orang yang diajari) bagi kita yang memberi.

Buku yang cukup unik, berawal dari judul buku yang menipu orang yang hanya melihat dari covernya tanpa membuka bukunya terlebih dahulu. Bahkan realitas judul saja bisa diambil hikmahnya.

Jangan melihat dari luarnya saja, kalau tidak mau kecewa akan ekspetasi dari tampilan yang disajikan tanpa tahu didalamnya. Bisa jadi ada ulat dibalik kulit jambu biji yang menyegarkan, atau dibalik penampilan preman yang sangar ada hati yang baik.

Selain itu kita juga harus bisa mengambil pelajaran dari semua yang ada, dengan kepekaan kita pasti ada yang bisa dijadikan pembelajaran yang kemudian menjadi investasi kita di masa depan. Dan jangan pelit-pelit untuk berbagi pembelajaran maupun pengalaman, jangan gengsi juga untuk menerima pembelajaran dari orang lain. Tidak perlu memandang siapa yang berbicara, tapi apa yang dibicarakan. Sekian dan sampai jumpa di postingan ‘The power of book’ lainnya.

gambar : galeri pribadi


Komentar