“Yuk lanjutin ngebadutnya” atau ”Badut kok sedih? Nggak boleh lemah dong.” Ungkapan itu sering muncul di media sosial Twitter, banyak cuitan yang mengangkat tokoh ikonik dalam pesta ulang tahun anak kecil itu. Maksud dari cuitan diatas berupa sarkasme terhadap diri sendiri atau hanya sebatas konten yang berarti tetap memasang wajah badut tersenyum (konyol dan menghibur orang) walaupun sedang tidak baik-baik saja hanya untuk menutupi sisi lemahnya. Atau bisa disebut tetap beperilaku bodoh walaupun diri sudah sadar akan kebodohannya. Memang kuakui kehidupan saat ini cukup membuat manusia harus menutupi sisi lemahnya karena kerasnya dunia. Jika ngebadut menjadi alternatif untuk memperkuat diri dengan menipu diri sendiri dan orang lain, maka itu cukup melelahkan karena harus berpura-pura. Belum lagi ada potensi akan kehilangan jati dirinya karena tidak ada waktu untuk bersama sisi lemahnya. Sedikit rancu untuk dibahas sebenarnya, maka aku juga mencoba memberikan batasan apa yang akan...
Sebuah 'masterpiece' dariku, semua yang kupikirkan mencoba kutuangkan dalam bentuk tulisan ini. Dengan berbagi pikiran semoga kita bisa bertukar pikiran bersama :)