Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

The Power of Book : “Bola Mataku Dimakan Kucing?” by Caitlin Doughty

Dari awal judulnya saja cukup ambigu ya, memangnya kucing peliharaan yang manis dan menggemaskan akan mengeluarkan sisi buasnya dengan memanggil jiwa singa yang kelaparan? Menyangkut perntanyaan itu, Caitlin mengisyaratkan mengenai kematian yang mungkin terjadi pada kita. Kejadian dimana ada dan apa yang nampak pada manusia yang sudah tidak benyawa. Caitlin adalah seorang mortician (profesional yang terlibat dalam bisnis atau proses pemakaman) Amerika Serikat dimana pekerjaannya mengurus mayat dan acara pemakaman. Buku terjemahan dengan cover berwarna merah ini berisi tentang pertanyaan unik yang ditujukan pada Caitlin dan menjawabnya dengan berbagai fakta dan referensi yang dapat menguatkan penyataannya. Kita mulai dari judulnya yang mempertanyakan " S aat mati, akankah  kucingku akan memakan bola mataku?" Dan jawabannya adalah iya, bisa jadi. Kita tahu kucing adalah hewan peliharaan yang mungkin tidak hiperaktif seperti anjing. Tapi disini Caitlin menjelaskan jika mati di...

Empati Berujung Baper

Kenapa tidak melakukan apa yang bisa kamu lakukan untuk menerima kenyataan. Tidak ada yang akan menyanyai tentang bagaimana perasaanmu. Semua serba bodo amat dan tidak mau tahu apakah yang dikatakan telah menyakiti hati orang lain. Egois? Tentu. Dasar orang - orang tidak berperasaan. Tidak ada yang spesial dari sebuah perasaan, dia menyebalkan dan menjengkelkan. Membuat semua rencana menjadi berantakan ketika semua keputusan diambil alih olehnya. Semua karena perasaan yang berujung egois untuk selalu ingin diprioritaskan,  “Kamu nggak tahu apa yang aku rasakan, jadi tolong ngertiin.” Mau dimengerti? Hey! Kamu saja tidak ngertiin perasaan orang lain. Lucu sekali kamu. Baiklah, aku akan mencoba untuk mengerti, memahami dan merasakan apa yang orang lain rasakan. Sebutannya adalah Empati. Itu mudah, dengan menanyakan apa yang sedang dirasakannya. Tapi semoga tidak zonk ya, karena ada orang – orang tidak mudah menyampaikan apa yang sedang mereka rasakan kecuali saat bahagia. Seper...

Keributan Dalam Diri

Kamu kenapa marah? Apa yang salah dengan kamu? Bagaimana kamu bisa seperti ini? Dan pertanyaan mengenai keadaan lainnya. Pertanyaan itu muncul ketika sedang mengalami kebingungan terhadap diri sendiri. Seakan ada yang memperhatikan dan mengkonfirmasi apakah sedang terjadi sesuatu. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan ini. Bertanya tentang keadaanku apakah hal ini lumrah terjadi di setiap manusia, atau hanya diriku saja yang demikian. Iya, aku ini aneh, sudah cukupkah? *Haha tidak, aku ini unik dan langka, bukankah menjadi minoritas adalah sesuatu yang membanggakan? Nah, baru saja terjadi seakan ada bisikan yang menyangkal keresahanku. Seperti aku tidak boleh merasa cemas akan apa yang sedang terjadi kepadaku. Memaksaku untuk tetap menjadi diriku yang kuat, cuek, bahkan memberikan reaksi flat setiap saat. Memang sih, itu membuatku menjadi tidak berperasaan. Karena memang tidak ada yang mempersilahkan untuk meluapkan segala emosi negatif yang kualami sejenak. Diriku sendiri ...

Mengapa Kebenaran Terasa Pahit Jika Diketahui?

Kuakui memang tidak mengenakkan, jika memang kebenaran tidak terasa pahit, mengapa banyak orang yang memilih untuk menutupi kebenaran? Atau ada yang menolak kebenaran padahal bisa dipertanggungjawabkan? Tidak mengerti apa yang dipikirkan orang-orang karena pernyataan ini masih bersifat relatif. Ada orang yang menginginkan sebuah kebenaran dari penyataan yang abu-abu supaya mendapatkan kejelasan. Ada juga yang ingin menghindari kebenaran karena ada gambaran jika mengetahui yang sebenarnya akan menyakitkan. Aku menemukan pola dari realitas mengenai kebenaran, orang akan menerima kebenaran jika kebenaran itu linear dengan ekspetasinya. Semisal saat mendengar suara notifikasi pesan pada ponsel mungkin orang yang kesepian menganggap ada yang menghubunginya walau hanya sekedar sapaan ‘hai’, ternyata pesan dari nomor anonim yang menawarkan pinjaman online. Kan jadi tidak linear dengan ekspetasinya. Penyataan itu sejalan dengan qoutes yang kutemukan dari Friedrich Nietzsche yang menyatakan...

Tidak Mudah Berpaling

Setia, kata yang tidak asing bagi semua orang. Bagaimana tidak? Kata itu yang sangat didambakan oleh seorang yang berpasangan, atau antara karyawan dengan bos, prajurit dengan rajanya, serta seseorang yang setia pada masalahnya hingga tidak mudah berpaling? Haha, yang terakhir aku bercanda. Namun apa yang membuat kesetiaan itu terjadi di sebuah relasi? Apakah kesetiaan ini hanyalah terjadi diantara manusia saja? Dengan hewan juga ya? Seperti dalam film anjing yang bernama Hachiko yang setia menunggu majikannya di stasiun walaupun sang majikan telah tiada? Aku akan memunculkan sebuah realitas yang mungkin relate dengan pembaca. Pernahkah waktu mengerjakan tugas atau suatu pekerjaan, belum selesai tapi sudah mengerjakan yang lain. Ini tidak mengangkat waktu deadline pekerjaan ya, anggaplah deadline -nya masih lama. Atau ketika mengerjakan tugas niatnya mau membuka ponsel untuk melihat catatan tugas namun beralih scroll sosial media dan berakhir tugasnya tidak terselesaikan. Nah, dari...