Langsung ke konten utama

Perjalanan yang Menyenangkan

Benarkah menyenangkan? Bukannya yang kita temui hanyalah jalanan yang padat akan kendaraan bahkan kemacetan dan kebisingan dari suara klakson yang saling bersautan ketika berebut jalan supaya sampai ke tujuan tepat waktu. Atau dalam perjalanan hidup yang kini makin amburadul, seperti adanya pandemi yang sudah lama bertengger dan tidak mau pergi, belum lagi masalah baik dari pekerjaan, sekolah, rumah, bahkan diri sendiri. Semuanya seakan bersatu padu menjadi gado-gado, hehe saya laper...

Tapi kita coba pahami dulu arti perjalanan, yaitu proses perpindahan dari tempat ke tempat lain; adanya pergerakan. Jadi memang benar perjalanan identik dengan kondisi jalanan saat melakukan proses perpindahan. Lalu memangnya apa yang akan dibahas mengenai perjalanan? Mari dimulai dengan pengalaman saya selama sekolah dahulu, dimana berangkat ke sekolah dengan angkutan umum bis antar kota. Karena jarak antar rumah ke sekolah sekitar 15km dan waktu tempuh memakan waktu 30 menit. Itu terjadi juga ketika pulang sekolah.

Pasti sangat melelahkan dan membosankan, rasanya ingin cepat sampai ke tujuan karena sudah terbayang betapa panasnya jika dapat bis yang tidak ber-AC, belum lagi ada yang masih nge-tem (berhenti untuk mencari penumpang), berdesak-desakan dengan penumpang lain, tapi tidak dengan saya. Yang saya rasakan lebih seru dan lebih menantang seperti, sebelum naik bis harus ada adegan kejar-kejaran dulu saat bis sudah akan melaju ketika saya baru datang di halte. Bahkan saya merasa senang selama perjalanan 30 menit itu, karena saya habiskan untuk mendengarkan lagu dengan earphone, melihat jalanan yang padat dipenuhi pelajar lainnya yang ke sekolah naik motor atau pengendara lainnya. Selain itu bisa menikmatinya dengan tidur sejenak jika semalaman begadang, atau digunakan untuk belajar karena hari itu diadakan ujian. Lucunya, saya kadang kecewa jika waktu perjalanan terasa sangat cepat. Karena saking sukanya. Ditambah lagi disana menemukan teman baru dengan sekolah yang berbeda, hingga membuat grup chat untuk sekedar berbagi info agenda sekolah masing-masing. Ya, itu yang terjadi dalam perjalanan saya dari rumah menuju sekolah dan se-menyenangkan itu.

Sama halnya dengan perjalanan hidup, ada orang yang ingin langsung instan saja tanpa adanya berproses (perjalanan) menuju tujuan atau suatu keinginan, mi instan saja masih ada proses merebus sebelum bisa dinikmati, masa kalian nggak? Dengan segala dinamika yang ada, pasti akan ada pemandangan penuh warna yaitu masalah yang datang entah kapan untuk menguji kita dalam mencapai tujuan. Tidak mungkin jika tidak pernah menemui masalah sekecil apapun masalahnya. Sayangnya kebanyakan orang kadang sudah ingin menghindarinya, tapi bukankah dengan adanya masalah bisa membuat orang tersebut bertumbuh dan melewati challenge dalam masa pertumbuhannya untuk naik level lebih tinggi?

Dimana-mana semua orang memang tidak menginginkan tertimpa masalah, tapi jika tidak menemui masalah dalam hidupnya pasti akan terasa hampa dan membosankan, karena tidak ada yang membuatnya keluar dari zonanya.

Dalam proses menuju pendewasaan ini bagi generasi muda yang sudah berpikir untuk menjadikan dirinya orang yang bermanfaat yaitu problem solver dari segala bentuk masalah. Masalah yang sudah terpecahkan juga dijadikan sebagai pengalaman baru dan bekal untuk mengatasi masalah kedepan ketika menemui masalah yang sama. Sebenarnya pembahasan masalah ini cukup kompleks, maka saya sendiri hanya mengambil point yang menarik untuk dibahas.

Yaitu perjalanan pada proses pendewasaan diri, untuk ikut serta merasakan enjoy dalam perjalanan penuh dinamika itu. Dengan mengikuti beberapa alternatif solusi walau terkadang masih tersesat, maka nikmatilah kesesatan itu. Bisa saja sempat muncul ide cemerlang kemudian dikembangkan menjadi sesuatu yang luar biasa dan mampu mengubah dunia. Benar kata iklan Counterpain, bahwa Nikmati rasa sakit itu, dia berharga. Jadi saya berharap kepada kalian pembaca bahwa semua itu butuh proses, tidak ada yang instan. Seperti balita sedang belajar berjalan atau mie instan sedang direbus untuk dimakan, apalagi kalian yang akan menjadi orang sukses yang kini sedang menjumpai masalah-masalah untuk menjadikan kalian layak jadi orang sukses. 

Jadi, jangan lupa nikmati pemandangan selama perjalananmu. Karena itu sayang untuk dilewatkan. 

gambar : vecteezy.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Power of Book : “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki” by Baek Se Hee.

“Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?” sebuah persembahan buku dari peyintas pasien distimia (depresi ringan yang berkepanjangan) tidak membuat penulis ingin melakukan bunuh diri, melainkan ingin memakan tteokpokki (jajanan korea yang terbuat dari beras). Buku self improvement ini berisikan catatan percakapan antara penulis dan psikiater yang menanganinya. Sehingga pembaca akan menjumpai sesi diskusi yang cukup panjang. Tiap bahasan berisi permasalahan yang berbeda dan disajikan di tiap bab yang berupa hasil konsultasi rutin penulis selama seminggu sekali. Penulis juga menyampaikan bahwa pembahasan yang disajikan bersifat pribadi dan suram, namun tidak hanya itu yang difokuskan. Melainkan menemukan pernyebab dari permasalahan tersebut melalui situasi spesifik dan berfokus pada cerita yang bergerak ke arah kehidupan yang lebih baik. Harapan penulis juga ingin memberitahukan pada orang diluar sana bahwa tidak hanya dirinya yang mera...

7 hari terakhir di bulan Februari

Sudah 2 bulan aku menyibukkan diri untuk bekerja diluar. Cukup menyenangkan dan melelahkan karena namanya juga bekerja pasti ada saja yang menjadi persoalan. Bekerja yang menyenangkan memang ada katanya, orang bilang bekerja sesuai passion yang menjadi idaman banyak orang. Sedangkan masih ada yang belum menemukan passion diri sendiri yang sebernarnya. Bahkan ada yang tidak mengenal dirinya sendiri, mau apa, suka apa, memiliki tujuan dan target apa dan berakhir upload story ‘hidup kok gini-gini aja’. Ada yang bilang kalau hidup tidak melulu soal mengejar tujuan dan target, cukup dijalani dengan begitu adanya. Tidak perlu berlari cukup berjalan dan nikmati perjalanan itu. Aku setuju pendapat itu namun tidak untuk akhir-akhir ini. Aku dijumpai beberapa persoalanku yang sudah menunggu lama untuk diselesaikan. Ternyata 2 bulan bekerja membuatku lengah dengan masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang akan aku putuskan untuk masa depanku, apakah aku akan menyelesaikan yang sudah aku mulai a...