Apa yang aku rasakan? Tentu saja sedang netral, tidak sedang suka maupun duka. Tetapi aku sedang berfikir apa yang sedang kualami hari ini. Baru saja diriku membunuh makhluk hidup, hewan kesayanganku selama ini. Melihatnya tersiksa saat racun mulai bereaksi di tubuhnya, mulai men-disfungsikan beberapa organ vitalnya. Berusaha untuk menyelamatkannya namun gagal, nyawanya tidak tertolong. Tersiksanya dia ketika ajal sudah menjemputnya. Mulai dari berteriak, mata terbuka lebar hingga kejang-kejang lalu tubuhnya pun menegang meregangkan kaki dan tangannya dan itu terjadi beberapa kali. Cukup lama jiwanya berpisah dengan raganya, bagaimana tidak? Ia masih ingin makan enak, ia masih ingin bermain kesana kemari, ia masih ingin dekat denganku, mendengar segala keluh kesahku. Namun itu hanya keinginan yang tidak bisa terwujud setelah tubuhnya tenang dan tidak bernafas dan menandakan sudah mati.
Perlu diketahui, proses pemisahan jiwa dan raga di tubuh makhluk hidup tidak bisa dilihat ketika jiwanya mulai terpisah dari tubuhnya. Secara realitas masih cukup abstrak bagiku, hanya bisa melihat awal yang masih bergerak dan bernafas hingga diam dan tidak bernafas. Kematian itu cukup misterius, semua pun tidak tahu kapan dirinya akan mati, kecuali jika kehendaknya sendiri ingin mati (jika dirasa cukup ampuh untuk membuatnya mati). Beberapa upaya pun dilakukan untuk menghindari maupun mendekati kematian. Sungguh tidak pandang bulu, baik itu kaya-miskin, tua-muda, rupawan-jelek, sehat-penyakitan, dan sebagainya.
Maka sempat terpikirkan olehku, apakah pemisahan jiwa dan raga begitu menyakitkan? Orang-orang menyebutnya dengan sakaratul maut, lalu bagaimana ketika hidupnya sudah sakit-sakitan dan masih merasakan sakaratul maut yang menyakitkan itu? Aku sendiri juga belum mengerti, secara pengalaman melihat makhluk hidup yang mengalami hal itu masih bisa dihitung, dan dengan objek yang sama pula, hari ini baru yang kedua aku melihatnya. Tentunya tidak jauh beda dengan manusia. Namun tidak lantas aku berakhir dengan tangan kosong, saat ini aku bisa mencurahkan pengalamanku hari ini yang cukup menjadi penghayatan akan mengingat Kematian..
Memang kehidupan di dunia ini ada batasannya, tidak bisa kekal, ada kematian yang menghadang di depan entah kapan. Kucingku yang mati hari ini juga tidak tahu bahwa dirinya akan mati karena keracunan, sama halnya dengan diriku. Aku tidak tahu kapan aku akan mati dan bagaimana jalan menuju kematianku, sehingga hal itu yang membuat aku ingin meninggalkan sedikit kenang-kenangan yang patut untuk dikenang. Kucingku saja punya kenangan manis dengan pemiliknya, tentu aku tidak mau kalah dengan kucingku. Aku tidak ingin hanya meninggalkan nama unikku saja, namun karya orisinil dariku yang mampu mengingatkan orang-orang tentang diriku, maka tulisan ini akan memulai segalanya.
![]() |
| gambar : galeri pribadi |

Komentar
Posting Komentar