Langsung ke konten utama

Awal Yang Baru

Apa yang aku rasakan? Tentu saja sedang netral, tidak sedang suka maupun duka. Tetapi aku sedang berfikir apa yang sedang kualami hari ini. Baru saja diriku membunuh makhluk hidup, hewan kesayanganku selama ini. Melihatnya tersiksa saat racun mulai bereaksi di tubuhnya, mulai men-disfungsikan beberapa organ vitalnya. Berusaha untuk menyelamatkannya namun gagal, nyawanya tidak tertolong. Tersiksanya dia ketika ajal sudah menjemputnya. Mulai dari berteriak, mata terbuka lebar hingga kejang-kejang lalu tubuhnya pun menegang meregangkan kaki dan tangannya dan itu terjadi beberapa kali. Cukup lama jiwanya berpisah dengan raganya, bagaimana tidak? Ia masih ingin makan enak, ia masih ingin bermain kesana kemari, ia masih ingin dekat denganku, mendengar segala keluh kesahku. Namun itu hanya keinginan yang tidak bisa terwujud setelah tubuhnya tenang dan tidak bernafas dan menandakan sudah mati.

Perlu diketahui, proses pemisahan jiwa dan raga di tubuh makhluk hidup tidak bisa dilihat ketika jiwanya mulai terpisah dari tubuhnya. Secara realitas masih cukup abstrak bagiku, hanya bisa melihat awal yang masih bergerak dan bernafas hingga diam dan tidak bernafas. Kematian itu cukup misterius, semua pun tidak tahu kapan dirinya akan mati, kecuali jika kehendaknya sendiri ingin mati (jika dirasa cukup ampuh untuk membuatnya mati). Beberapa upaya pun dilakukan untuk menghindari maupun mendekati kematian. Sungguh tidak pandang bulu, baik itu kaya-miskin, tua-muda, rupawan-jelek, sehat-penyakitan, dan sebagainya.

Maka sempat terpikirkan olehku, apakah pemisahan jiwa dan raga begitu menyakitkan? Orang-orang menyebutnya dengan sakaratul maut, lalu bagaimana ketika hidupnya sudah sakit-sakitan dan masih merasakan sakaratul maut yang menyakitkan itu? Aku sendiri juga belum mengerti, secara pengalaman melihat makhluk hidup yang mengalami hal itu masih bisa dihitung, dan dengan objek yang sama pula, hari ini baru yang kedua aku melihatnya. Tentunya tidak jauh beda dengan manusia. Namun tidak lantas aku berakhir dengan tangan kosong, saat ini aku bisa mencurahkan pengalamanku hari ini yang cukup menjadi penghayatan akan mengingat Kematian..

Memang kehidupan di dunia ini ada batasannya, tidak bisa kekal, ada kematian yang menghadang di depan entah kapan. Kucingku yang mati hari ini juga tidak tahu bahwa dirinya akan mati karena keracunan, sama halnya dengan diriku. Aku tidak tahu kapan aku akan mati dan bagaimana jalan menuju kematianku, sehingga hal itu yang membuat aku ingin meninggalkan sedikit kenang-kenangan yang patut untuk dikenang. Kucingku saja punya kenangan manis dengan pemiliknya, tentu aku tidak mau kalah dengan kucingku. Aku tidak ingin hanya meninggalkan nama unikku saja, namun karya orisinil dariku yang mampu mengingatkan orang-orang tentang diriku, maka tulisan ini akan memulai segalanya.


gambar : galeri pribadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan yang Menyenangkan

Benarkah menyenangkan? Bukannya yang kita temui hanyalah jalanan yang padat akan kendaraan bahkan kemacetan dan kebisingan dari suara klakson yang saling bersautan ketika berebut jalan supaya sampai ke tujuan tepat waktu. Atau dalam perjalanan hidup yang kini makin amburadul, seperti adanya pandemi yang sudah lama bertengger dan tidak mau pergi, belum lagi masalah baik dari pekerjaan, sekolah, rumah, bahkan diri sendiri. Semuanya seakan bersatu padu menjadi gado-gado, hehe saya laper... Tapi kita coba pahami dulu arti perjalanan, yaitu proses perpindahan dari tempat ke tempat lain; adanya pergerakan. Jadi memang benar perjalanan identik dengan kondisi jalanan saat melakukan proses perpindahan. Lalu memangnya apa yang akan dibahas mengenai perjalanan? Mari dimulai dengan pengalaman saya selama sekolah dahulu, dimana berangkat ke sekolah dengan angkutan umum bis antar kota. Karena jarak antar rumah ke sekolah sekitar 15km dan waktu tempuh memakan waktu 30 menit. Itu terjadi juga ketika...

The Power of Book : “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki” by Baek Se Hee.

“Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?” sebuah persembahan buku dari peyintas pasien distimia (depresi ringan yang berkepanjangan) tidak membuat penulis ingin melakukan bunuh diri, melainkan ingin memakan tteokpokki (jajanan korea yang terbuat dari beras). Buku self improvement ini berisikan catatan percakapan antara penulis dan psikiater yang menanganinya. Sehingga pembaca akan menjumpai sesi diskusi yang cukup panjang. Tiap bahasan berisi permasalahan yang berbeda dan disajikan di tiap bab yang berupa hasil konsultasi rutin penulis selama seminggu sekali. Penulis juga menyampaikan bahwa pembahasan yang disajikan bersifat pribadi dan suram, namun tidak hanya itu yang difokuskan. Melainkan menemukan pernyebab dari permasalahan tersebut melalui situasi spesifik dan berfokus pada cerita yang bergerak ke arah kehidupan yang lebih baik. Harapan penulis juga ingin memberitahukan pada orang diluar sana bahwa tidak hanya dirinya yang mera...

7 hari terakhir di bulan Februari

Sudah 2 bulan aku menyibukkan diri untuk bekerja diluar. Cukup menyenangkan dan melelahkan karena namanya juga bekerja pasti ada saja yang menjadi persoalan. Bekerja yang menyenangkan memang ada katanya, orang bilang bekerja sesuai passion yang menjadi idaman banyak orang. Sedangkan masih ada yang belum menemukan passion diri sendiri yang sebernarnya. Bahkan ada yang tidak mengenal dirinya sendiri, mau apa, suka apa, memiliki tujuan dan target apa dan berakhir upload story ‘hidup kok gini-gini aja’. Ada yang bilang kalau hidup tidak melulu soal mengejar tujuan dan target, cukup dijalani dengan begitu adanya. Tidak perlu berlari cukup berjalan dan nikmati perjalanan itu. Aku setuju pendapat itu namun tidak untuk akhir-akhir ini. Aku dijumpai beberapa persoalanku yang sudah menunggu lama untuk diselesaikan. Ternyata 2 bulan bekerja membuatku lengah dengan masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang akan aku putuskan untuk masa depanku, apakah aku akan menyelesaikan yang sudah aku mulai a...