Langsung ke konten utama

Kepedulian 🍂

“Pedulilah!!” dan “Kamu jangan egois, pikirkan orang di sekitarmu”, kecaman itu sering kudengar dari temanku di sekolah semasa sekolah dulu. Banyak yang menganggap diriku ini orang yang egois, mementingkan dirinya sendiri dibandingkan yang selainnya. Anggapan mengenai hal tersebut tentu saja membuatku kurang nyaman, terlepas dari kepribadian ambivert tentu saja masih relatif. Tapi adanya sifat peduli itu tidak berdasarkan dari kepribadian, banyak aspek yang perlu dibedah.

Terkadang aku juga menyadarinya, bertingkah tidak tahu apa-apa dan memilih diam adalah hal baik yang kulakukan. Mengapa? Karena aku sendiri tidak mau kecewa, masih ada ketakutan yang bersarang ketika kepedulian yang aku berikan akan menyakiti perasaanku. Bagaimana bisa? Kini aku kembali bertanya, pernahkah ketika ingin membantu namun sudah ditolak? Kemudian ada yang mengira tidak peduli karena tidak ada yang membantunya. Mungkin ini dianggap spekulasi belaka, yang menjadi asumsi atau alasan untuk tidak peduli. Tapi perlu kita ketahui dahulu, apa arti peduli itu.

Menurut pengetahuanku, peduli adalah sebuah respon kita ketika menerima stimulus dari lingkungan yang telah menggugah sisi perasaan dan kemauan untuk menghiraukan, mengindahkan ataupun memperhatikan. Dalam artian ketika kita melihat ada korban bencana alam lalu ada perasaan kasihan hingga muncul ingin membantu dengan melakukan penggalangan dana ataupun bantuan lain. Atau melihat lingkungan yang sudah dipenuhi limbah plastik, maka akan mengindahkan dengan meminimalkan jumlah konsumtif plastik karena mulai peduli akan keadaan alam. Banyak kita menjumpai beberapa aksi peduli yang bisa dijadikan realitas.

Memang benar perilaku peduli ini patut dijadikan budaya, karena tempat tinggalku sendiri masih di daerah perkampungan yang masih kental akan moral budi yang baik maka masih ada yang menerapkannya. Namun melihat ke depan semakin lama budaya peduli ini mulai hilang, adanya nilai-nilai individualisme yang masuk seakan meracuni budaya yang ada. Aku sadar betul bahwa alasanku diatas merupakan pemebenaran diri sendiri dengan menyalahkan orang lain yang tidak mau dibantu.

Tetapi lama-kelamaan aku juga merasakan kepedulian itu dari orang lain, pernah ketika motor kehabisan bensin di tengah perjalanan pulang hingga mendorong sejauh ±100 m, banyak kendaraan lalu lalang namun tidak ada yang membantu, hingga ada bapak-bapak yang mau mendorong dengan kaki yang menempel pada knalpot motorku hingga menemukan penjual bensin sedangkan beliau sebenarnya tidak searah jadi putar balik, seberapa bersyukurnya diriku saat itu. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa kusebutkan. 

Hal itu mampu membuatku merenungkan diri seberapa kenikmatan yang dirasakan ketika membantu sesama yang sedang butuh bantuan, timbul rasa kebermakanaan akan hidupnya yang bisa bermanfaat untuk orang lain.

Masih ada ketakutan akan penolakan terkadang membuatku seperti orang payah, lantas aku mencoba dengan pengendalian perasaan agar tidak merasakan kekecewaan berlebih dengan berpikir ‘mungkin mereka mampu melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain, semua orang paham itu namun aku yang terlalu berlebihan. Tidak apa, toh aku tidak direpotkan’. Kalimat tersebut kerap ditanamkan dan mampu meredakan rasa kekecewaan yang kualami. Dengan menambah semangat untuk peduli, dengan motif berupa karya maupun kontribusi mengenai hal apa dari diriku yang bermanfaat untuk orang lain.

Mulai dari hal kecil saja dengan menerapkan untuk tidak membuang sampah sembarangan hingga ada insisiatif untuk membersihan lingkungan yang lama dibiarkan dipenuhi sampah hingga menggugah orang lain untuk ikut membantu kemudian membuat suatu perkumpulan peduli alam dan melakukan pengembangan dengan inovasi pengelolaan limbah menjadi kerajian yang mampu menembus pasar lokal hingga global. Hal itu disebut efek domino dari apa yang sudah kita lakukan.

Maka dari itu jangan sampai budaya peduli yang sudah tertanamkan hilang begitu saja ditelan oleh zaman. Tidak ada alasan untuk tidak peduli hanya dikarenakan rasa kekecewaan yang menyelimuti, dengan melakukan pengelolaan hingga pengendalian perasaan bisa sebanding dengan hasil perasaan kebermaknaan yang hadir karena kepedulian itu sendiri.

gambar : galeri pribadi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan yang Menyenangkan

Benarkah menyenangkan? Bukannya yang kita temui hanyalah jalanan yang padat akan kendaraan bahkan kemacetan dan kebisingan dari suara klakson yang saling bersautan ketika berebut jalan supaya sampai ke tujuan tepat waktu. Atau dalam perjalanan hidup yang kini makin amburadul, seperti adanya pandemi yang sudah lama bertengger dan tidak mau pergi, belum lagi masalah baik dari pekerjaan, sekolah, rumah, bahkan diri sendiri. Semuanya seakan bersatu padu menjadi gado-gado, hehe saya laper... Tapi kita coba pahami dulu arti perjalanan, yaitu proses perpindahan dari tempat ke tempat lain; adanya pergerakan. Jadi memang benar perjalanan identik dengan kondisi jalanan saat melakukan proses perpindahan. Lalu memangnya apa yang akan dibahas mengenai perjalanan? Mari dimulai dengan pengalaman saya selama sekolah dahulu, dimana berangkat ke sekolah dengan angkutan umum bis antar kota. Karena jarak antar rumah ke sekolah sekitar 15km dan waktu tempuh memakan waktu 30 menit. Itu terjadi juga ketika...

The Power of Book : “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki” by Baek Se Hee.

“Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?” sebuah persembahan buku dari peyintas pasien distimia (depresi ringan yang berkepanjangan) tidak membuat penulis ingin melakukan bunuh diri, melainkan ingin memakan tteokpokki (jajanan korea yang terbuat dari beras). Buku self improvement ini berisikan catatan percakapan antara penulis dan psikiater yang menanganinya. Sehingga pembaca akan menjumpai sesi diskusi yang cukup panjang. Tiap bahasan berisi permasalahan yang berbeda dan disajikan di tiap bab yang berupa hasil konsultasi rutin penulis selama seminggu sekali. Penulis juga menyampaikan bahwa pembahasan yang disajikan bersifat pribadi dan suram, namun tidak hanya itu yang difokuskan. Melainkan menemukan pernyebab dari permasalahan tersebut melalui situasi spesifik dan berfokus pada cerita yang bergerak ke arah kehidupan yang lebih baik. Harapan penulis juga ingin memberitahukan pada orang diluar sana bahwa tidak hanya dirinya yang mera...

7 hari terakhir di bulan Februari

Sudah 2 bulan aku menyibukkan diri untuk bekerja diluar. Cukup menyenangkan dan melelahkan karena namanya juga bekerja pasti ada saja yang menjadi persoalan. Bekerja yang menyenangkan memang ada katanya, orang bilang bekerja sesuai passion yang menjadi idaman banyak orang. Sedangkan masih ada yang belum menemukan passion diri sendiri yang sebernarnya. Bahkan ada yang tidak mengenal dirinya sendiri, mau apa, suka apa, memiliki tujuan dan target apa dan berakhir upload story ‘hidup kok gini-gini aja’. Ada yang bilang kalau hidup tidak melulu soal mengejar tujuan dan target, cukup dijalani dengan begitu adanya. Tidak perlu berlari cukup berjalan dan nikmati perjalanan itu. Aku setuju pendapat itu namun tidak untuk akhir-akhir ini. Aku dijumpai beberapa persoalanku yang sudah menunggu lama untuk diselesaikan. Ternyata 2 bulan bekerja membuatku lengah dengan masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang akan aku putuskan untuk masa depanku, apakah aku akan menyelesaikan yang sudah aku mulai a...