“Pedulilah!!” dan “Kamu jangan egois, pikirkan orang di sekitarmu”, kecaman itu sering kudengar dari temanku di sekolah semasa sekolah dulu. Banyak yang menganggap diriku ini orang yang egois, mementingkan dirinya sendiri dibandingkan yang selainnya. Anggapan mengenai hal tersebut tentu saja membuatku kurang nyaman, terlepas dari kepribadian ambivert tentu saja masih relatif. Tapi adanya sifat peduli itu tidak berdasarkan dari kepribadian, banyak aspek yang perlu dibedah.
Terkadang aku juga menyadarinya, bertingkah tidak tahu apa-apa dan memilih diam adalah hal baik yang kulakukan. Mengapa? Karena aku sendiri tidak mau kecewa, masih ada ketakutan yang bersarang ketika kepedulian yang aku berikan akan menyakiti perasaanku. Bagaimana bisa? Kini aku kembali bertanya, pernahkah ketika ingin membantu namun sudah ditolak? Kemudian ada yang mengira tidak peduli karena tidak ada yang membantunya. Mungkin ini dianggap spekulasi belaka, yang menjadi asumsi atau alasan untuk tidak peduli. Tapi perlu kita ketahui dahulu, apa arti peduli itu.
Menurut pengetahuanku, peduli adalah sebuah respon kita ketika menerima stimulus dari lingkungan yang telah menggugah sisi perasaan dan kemauan untuk menghiraukan, mengindahkan ataupun memperhatikan. Dalam artian ketika kita melihat ada korban bencana alam lalu ada perasaan kasihan hingga muncul ingin membantu dengan melakukan penggalangan dana ataupun bantuan lain. Atau melihat lingkungan yang sudah dipenuhi limbah plastik, maka akan mengindahkan dengan meminimalkan jumlah konsumtif plastik karena mulai peduli akan keadaan alam. Banyak kita menjumpai beberapa aksi peduli yang bisa dijadikan realitas.
Memang benar perilaku peduli ini patut dijadikan budaya, karena tempat tinggalku sendiri masih di daerah perkampungan yang masih kental akan moral budi yang baik maka masih ada yang menerapkannya. Namun melihat ke depan semakin lama budaya peduli ini mulai hilang, adanya nilai-nilai individualisme yang masuk seakan meracuni budaya yang ada. Aku sadar betul bahwa alasanku diatas merupakan pemebenaran diri sendiri dengan menyalahkan orang lain yang tidak mau dibantu.
Tetapi lama-kelamaan aku juga merasakan kepedulian itu dari orang lain, pernah ketika motor kehabisan bensin di tengah perjalanan pulang hingga mendorong sejauh ±100 m, banyak kendaraan lalu lalang namun tidak ada yang membantu, hingga ada bapak-bapak yang mau mendorong dengan kaki yang menempel pada knalpot motorku hingga menemukan penjual bensin sedangkan beliau sebenarnya tidak searah jadi putar balik, seberapa bersyukurnya diriku saat itu. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa kusebutkan.
Hal itu mampu membuatku merenungkan diri seberapa kenikmatan yang dirasakan ketika membantu sesama yang sedang butuh bantuan, timbul rasa kebermakanaan akan hidupnya yang bisa bermanfaat untuk orang lain.
Masih ada ketakutan akan penolakan terkadang membuatku seperti orang payah, lantas aku mencoba dengan pengendalian perasaan agar tidak merasakan kekecewaan berlebih dengan berpikir ‘mungkin mereka mampu melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain, semua orang paham itu namun aku yang terlalu berlebihan. Tidak apa, toh aku tidak direpotkan’. Kalimat tersebut kerap ditanamkan dan mampu meredakan rasa kekecewaan yang kualami. Dengan menambah semangat untuk peduli, dengan motif berupa karya maupun kontribusi mengenai hal apa dari diriku yang bermanfaat untuk orang lain.
Mulai dari hal kecil saja dengan menerapkan untuk tidak membuang sampah sembarangan hingga ada insisiatif untuk membersihan lingkungan yang lama dibiarkan dipenuhi sampah hingga menggugah orang lain untuk ikut membantu kemudian membuat suatu perkumpulan peduli alam dan melakukan pengembangan dengan inovasi pengelolaan limbah menjadi kerajian yang mampu menembus pasar lokal hingga global. Hal itu disebut efek domino dari apa yang sudah kita lakukan.
Maka dari itu jangan sampai budaya peduli yang sudah tertanamkan hilang begitu saja ditelan oleh zaman. Tidak ada alasan untuk tidak peduli hanya dikarenakan rasa kekecewaan yang menyelimuti, dengan melakukan pengelolaan hingga pengendalian perasaan bisa sebanding dengan hasil perasaan kebermaknaan yang hadir karena kepedulian itu sendiri.
![]() |
| gambar : galeri pribadi |

Komentar
Posting Komentar