Banyak yang menanyakan terkait kisah yang pelik itu, baik saudara, teman, bahkan orang yang tidak terlalu dikenal. Kenapa aku menganggap kisah tersebut sangat pelik? Karena hal itu melibatkan perasaan yang cenderung sulit diatur bahkan bisa menimbulkan masalah baru dan belum tentu masalahnya akan mendapatkan titik temu. Yaa, memang kisah tersebut sangat digandrungi oleh remaja dalam masa pertumbuhan. Bahkan sampai menghabiskan semua sumber dayanya hanya demi mengejar kisah itu sebagai ‘pembelajaran’ untuk melakukan evaluasi namun masih mengulangi lagi kesalahan yang sama. Aku sendiri belum mengalami sebenarnya, hanya mendengar dari teman-teman yang menceritakan kisahnya membuat penulis juga ikut membayangkan.
Karena kisah ini sangat di-idamkan remaja, pada proses pertumbuhan manusia ini dianggap masa yang paling indah. Maka masa ini disebut masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa sehingga banyak yang belum paham betul akan baik dan buruk. Karena yang mereka rasakan adalah rasa suka yang menyenangkan hati membuat orang yang merasakan hanyut akan perasaannya. Sehingga dari segi pemikiran sangat terkalahkan, karena dari perasaan yang lebih dominan membuatnya terus mengejar hingga timbul perasaan kecewa, bisa disebut patah hati istilah gaulnya ‘galau’ seakan orang yang paling menderita dan menjadikan pengalaman rasa yang buruk.
Sampai disini, apa penyebab adanya keinginan mengejar romansa bagi remaja? Tentu dari rasa suka, tapi awalnya mereka tidak tahu apa artinya itu. Berlanjut dikenalkan melalui media film, musik, novel yang bertajuk romantisme maka menjadi paham bahkan ikut terbawa alur cerita membuatnya harus dikejar, karena memang itu sebuah kebutuhan. Namun hal itu tidak serta merta berjalan lancar, banyak dinamika yang dilalui. Jika berhasil maka kebahagiaan yang didapatkan lain jika gagal, hanya rasa kecewa yang ada. Tapi aku disini ingin memberi tahu kisah romansa ini tidak selalu antar manusia lawan jenis, bisa dengan objek yang berfisik maupun tidak, bisa benda mati maupun benda hidup.
Aku menganggapnya dengan perasaan senang yang berlebih terhadap suatu objek. Semisal suka mendengarkan musik dengan earphone dengan volume tinggi hingga mendengarkannya pun tidak pernah bosan, dan tentu saja tidak akan merasakan kecewa. Atau suka makan pizza dengan keju mozarela yang melimpah, walaupun orang lain yang melihatnya sudah merasa eneg tapi orang yang menyukainya tidak begitu. Mereka hanya ingin mengejar rasa suka yang menyenangkan itu.
Tapi, sesuatu yang berlebihan juga akan tidak baik di akhir, rasa suka yang berlebihan bisa berubah menjadi duka. Singkat saja ketika suka makan pizza keju mozarela terlalu banyak tapi akhirnya membuat obesitas dan menjadi pantangan untuk dimakan, lalu suka mendengarkan musik bervolume tinggi dengan earphone, awalnya suka karena lagunya memberikan semangat tapi jika lama kelamaan dilakukan bisa merusak pendengaran bahkan otak karena efek elektromagnet dari earphone. Sama halnya rasa suka pada manusia, awalnya menyenangkan, namun setelah mengeluarkan effort yang lebih sedangkan hasilnya mengecewakan. Semua pasti lebih paham istilah ‘galau’ daripada aku, dampak ‘galau’ bisa membuat orang yang produktif menjadi tidak produktif, hilang konsentrasi dan perasaan itu hinggap cukup lama bukan. Bagaimana?
Namanya juga dunia, hidup dengan banyak batasan dan tidak bisa konsisten. Awalnya suka malah menjadi duka hingga memberikan banyak masalah. Intinya tetap ingat jika ini masih di dunia, apapun keputusan jangan sampai hanya berdasarkan perasaan saja.
Aku tidak akan membahas topik percintaan lebih detail karena sedari awal kisah tersebut sangatlah pelik, mencakup banyak aspek yang perlu didalami lagi. Sebenarnya tujuanku mengangkat topik kali ini untuk memberi tahu pembaca agar tidak mengharapkan tulisan yang bertajuk romantisme. Karna aku belum ingin mendalaminya. Selain itu, ketika masih remaja belum bisa mengelola emosi dan paham baik buruk, maka topik ini yang cukup sering jadi permasalahan bagi mereka. Mungkin bisa dibahas dilain waktu mengenai emosi pada remaja.
![]() |
| gambar : keelyreyes.com |

Komentar
Posting Komentar