Langsung ke konten utama

Hedonism berkedok ‘Self Healing’

‘Self healing’ sudah tidak asing di telinga ketika mengingat sebutan itu sering muncul di sosial media dan banyak sekali artikel yang membahasnya. Dari artinya saja penyembuhan diri, memang ada apa dengan diri ini? Bukankah sesuatu yang sakit harus berobat ke dokter? Tidak usah ditanya seharusnya tahu jika ada sesuatu yang tidak beres. Yang merasakan sakit adalah batin, psikis, jiwa yang merasa ‘semruweng’ dengan aktivitas yang semakin menekan diri untuk berjalan selayaknya robot, selalu dituntut untuk melakukan inovasi demi tidak tertinggal zaman yang kian berkembang. Apalagi di dunia industri yang saling berkompetisi untuk mendapatkan peringkat lebih unggul dan menjawab semua kebutuhan zaman.

Lalu mereka yang mengalami ‘semruweng’ pada dunianya itu beralih untuk istirahat sejenak dengan mengambil cuti kerja, bisa dengan berlibur, me time dengan melakukan kegiatan yang disuka, dan masih banyak lagi. Tapi, mereka juga menyadarinya jika waktu tersebut tidak bertahan lama, pastinya akan kembali pada situasi ‘semruweng’ lagi. Hal itu berulang terus menerus, sampai merasa lelah akan keadaanya. Lalu mencoba untuk mengunjungi ahli kejiwaan untuk melakukan konsultasi dengan menemukan masalah dan solusinya beserta beberapa pelatihan yang diberikan.

Namun anehnya, kegiatan ‘self healing’ ini cenderung pada kegiatan bersenang-senang, melupakan semua pekerjaan sejenak, baik berkumpul dengan teman, me time dan berselancar di sosial media, menikmati alam dan travelling kemana saja. Maka tidak ada bedanya dengan Hedonism yang sering disalah artikan. Semisal, ketika banyak pekerjaan lalu ingin beristirahat dengan bermain handphone dengan alasan untuk ‘self healing’ dari pusingnya kerjaan. Karena menganggap ketika bermain handphone bisa menyegarkan pikiran sejenak dan kembali produktif, ternyata tidak demikian, bahkan semakin lama bermain hingga melupakan pekerjaan yang menumpuk.

Jadi penyalahgunaan kata ‘self healing’ ini justru memberikan dampak negatif, jika salah pengartian dan metode yang dipilih yang bisa memunculkan masalah baru. Melanjutkan contoh diatas, pekerjaan yang terbengkalai hingga mengumpulkan melebihi deadline, kena marah atasan karena hasil pekerjaannya yang kurang baik ditambah terlambat mengumpulkan. Lalu merasa tertekan dan melakukan ‘self healing’ hingga terlena dan lupa tugasnya untuk melakukan revisi dan berputar terus seperti itu.

Sehingga perlu tahu dulu penyembuhan diri yang dimaksud itu bagaimana. Sepemahamanku penyembuhan diri adalah dengan mengambil waktu untuk sendiri, menenangkan diri dari hiruk pikuk aktivitas industri lalu mulai bertanya kembali apa yang terjadi hingga membuatnya seperti itu, dengan mencari masalah beserta solusi untuk menyelesaikan masalah itu. Jika dirasa kurang, pertanyakan apa tujuan dan apa kemauan diri, apakah sudah sinkron dengan kenyataan yang dihadapi. Kalau mengambil dari realitas pekerja di lingkungan industri, mereka merasa ‘semruweng’ karena belum merasakan kebermakanaan maupun kepuasan batin saat melakukan pekerjaannya, memang dalam melakukan inovasi suatu bidang akan memunculkan keunggulan. Dengan keunggulan tersebut bisa signifikan dalam menjawab permasalahan zaman yang semakin maju.

Seharusnya itu bisa menjadi motivasi untuk melakukan pembangunan masyarakat yang lebih baik bukan? Dengan pengadaan teknologi yang membantu orang banyak supaya tidak tertinggal zaman maka perlu melakukan inovasi. Untuk menghadapi kesibukan tersebut bisa diawali dengan melakukan meditasi pagi untuk mendapatkan ketenangan dan bisa fokus dalam berkarya.

Jadi, jangan sampai terlena akan kegiatan ‘self healing’ yang bisa membuat diri semakin terbawa suasana dan cenderung mementingkan perasaan. Atau menyalahgunakan istilah itu untuk bersenang-senang dan lari dari masalah yang sedang dihadapi. 

Ingat, apapun kesibukanmu sempatkan untuk melakukan penyembuhan diri yang benar. Tetap semangat dan jangan putus asa!!

gambar : calmsage.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 hari terakhir di bulan Februari

Sudah 2 bulan aku menyibukkan diri untuk bekerja diluar. Cukup menyenangkan dan melelahkan karena namanya juga bekerja pasti ada saja yang menjadi persoalan. Bekerja yang menyenangkan memang ada katanya, orang bilang bekerja sesuai passion yang menjadi idaman banyak orang. Sedangkan masih ada yang belum menemukan passion diri sendiri yang sebernarnya. Bahkan ada yang tidak mengenal dirinya sendiri, mau apa, suka apa, memiliki tujuan dan target apa dan berakhir upload story ‘hidup kok gini-gini aja’. Ada yang bilang kalau hidup tidak melulu soal mengejar tujuan dan target, cukup dijalani dengan begitu adanya. Tidak perlu berlari cukup berjalan dan nikmati perjalanan itu. Aku setuju pendapat itu namun tidak untuk akhir-akhir ini. Aku dijumpai beberapa persoalanku yang sudah menunggu lama untuk diselesaikan. Ternyata 2 bulan bekerja membuatku lengah dengan masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang akan aku putuskan untuk masa depanku, apakah aku akan menyelesaikan yang sudah aku mulai a...

Hikmah Dari Kematian?

Kematian merupakan hal yang masih misterius untuk diketahui yaitu kapan, dimana dan bagaimana akan terjadi pada mahluk hidup. Tidak ada yang tahu tetapi banyak yang berusaha untuk menghindari kematian itu ketika sakit langsung berobat untuk kembali sehat karena sakit merupakan salah satu jalan menuju kematian. Lalu kematian suatu makhluk hidup pastinya akan meninggalkan sesuatu, seperti hewan meninggalkan salah satu bagian tubuhnya-gajah meninggalkan gading dan manusia meninggalkan nama, pastinya sudah tidak asing dengan peribahasa itu. Tentunya manusia tidak akan mau jika mati hanya meninggalkan nama saja, mengingat adanya kebutuhan selain dari sisi spiritual juga terkait sisi aktualisasi selama hidup. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang memiliki pikiran maka apapun caranya ingin menjadi orang yang bermanfaat di sekitarnya dan dikenal sebagai sosok yang baik. Tidak ada yang tahu soal bentuk dan beberapa halaman yang akan ia tuliskan sebagai sejarah kehidupannya oleh...

The Power of Book : “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki” by Baek Se Hee.

“Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?” sebuah persembahan buku dari peyintas pasien distimia (depresi ringan yang berkepanjangan) tidak membuat penulis ingin melakukan bunuh diri, melainkan ingin memakan tteokpokki (jajanan korea yang terbuat dari beras). Buku self improvement ini berisikan catatan percakapan antara penulis dan psikiater yang menanganinya. Sehingga pembaca akan menjumpai sesi diskusi yang cukup panjang. Tiap bahasan berisi permasalahan yang berbeda dan disajikan di tiap bab yang berupa hasil konsultasi rutin penulis selama seminggu sekali. Penulis juga menyampaikan bahwa pembahasan yang disajikan bersifat pribadi dan suram, namun tidak hanya itu yang difokuskan. Melainkan menemukan pernyebab dari permasalahan tersebut melalui situasi spesifik dan berfokus pada cerita yang bergerak ke arah kehidupan yang lebih baik. Harapan penulis juga ingin memberitahukan pada orang diluar sana bahwa tidak hanya dirinya yang mera...