“Yuk lanjutin ngebadutnya” atau ”Badut kok sedih? Nggak boleh lemah dong.” Ungkapan itu sering muncul di media sosial Twitter, banyak cuitan yang mengangkat tokoh ikonik dalam pesta ulang tahun anak kecil itu. Maksud dari cuitan diatas berupa sarkasme terhadap diri sendiri atau hanya sebatas konten yang berarti tetap memasang wajah badut tersenyum (konyol dan menghibur orang) walaupun sedang tidak baik-baik saja hanya untuk menutupi sisi lemahnya. Atau bisa disebut tetap beperilaku bodoh walaupun diri sudah sadar akan kebodohannya.
Memang kuakui kehidupan saat ini cukup membuat manusia harus menutupi sisi lemahnya karena kerasnya dunia. Jika ngebadut menjadi alternatif untuk memperkuat diri dengan menipu diri sendiri dan orang lain, maka itu cukup melelahkan karena harus berpura-pura. Belum lagi ada potensi akan kehilangan jati dirinya karena tidak ada waktu untuk bersama sisi lemahnya. Sedikit rancu untuk dibahas sebenarnya, maka aku juga mencoba memberikan batasan apa yang akan dibahas.
Sekilas awalnya memang bisa menambah kepercayaan diri, karena masih peduli terhadap penilaian orang lain mengenai dirinya yang asli. Bahkan seringkali mengaturnya dengan ekspetasi orang lain yang berbeda 180 derajat dengan dirinya atau memang ingin menjadi orang lain hingga merubah karakter aslinya. Dengan begitu orang lain akan menyukai sisi palsunya itu karena sesuai harapan mereka, pikirnya begitu. Dengan berkedok berubah menjadi yang lebih baik, iya baik jika berubah menjadi lebih baik, kalau tidak ya untuk apa? Justru hal itu yang harus dihindari, bahkan bisa saja menyiksa diri karena bersifat memaksa. Apalagi kondisi pandemi yang membuat interaksi antar manusia secara langsung terbatasi, semua menggantungkan sistem digital (online) yang berarti peluang lebih besar untuk tidak menunjukan sisi aslinya.
Anggapanku mengenai hal itu terjadi disebabkan tidak ada tempat untuk bercerita, tidak ada yang ingin mendengarkan keluh kesahnya dengan seksama, merasa tidak penting kemudian memilih untuk mengabaikan rasa sesak yang semakin menjadi karena sudah berpura-pura menjadi kuat. Merasa tidak ada tempat untuk memperlihatkan sisi lemahnya, walau hanya satu orang diantara selainnya. Jadi untuk saat ini cukup langka menemukan orang yang mau mendengarkan segala keluh kesah, karena saat ini ingin berbagi cerita sudah dibalas dengan ‘kamu masih mending, lah aku...’ perbandingan nasib pun terjadi.
Mungkin harapanku juga sebagai teman ingin mendengarkan segala keluh kesah walaupun aku tidak bisa memberikan solusi dari permasalahannya. Karena jika baginya didengarkan saja sudah cukup tidak apa, tentunya dengan tidak ada perbandingan nasib seperti diatas.
Toh manfaat dari mendengarkan keluh kesah orang lain bisa menjadikan pengetahuan baru atau bisa mengambil hikmah dari permasalahan yang terjadi.
Pasti ada hambatan batin yang menjadi pertimbangan saat ingin berkeluh kesah, seperti terlalu malu untuk bercerita, maka solusinya bisa dengan memberikan batasan mana yang mau diceritakan. Jika terlalu takut cerita akan tersebar maka pilihlah teman untuk berkeluh kesah yang benar-benar teman, jangan sampai ada kasus teman cepu terjadi, hehe. Jika tidak bisa menemukan teman yang bisa menjaga privasi, bisa dengan tenaga ahli seperti mentor ataupun psikolog. Tetapi ada yang lebih simple dari itu, dengan mencurahkan keluh kesahnya melalui tulisan, bisa dengan menulis diary (buku harian), atau karya tulis lainnya, setelah dilakukan pastinya akan merasakan damai malahan bisa disebut ‘Self Healing’, tidak perlu ada orang lain untuk ikut serta dan pastinya tidak ada potensi tersebar.
Sehingga untuk kamu yang diluar sana merasa relate dengan pernyataan diatas, diharapkan bisa segera mencurahkan keluh kesahnya jika dirasa sangat menganggu kegiatan keseharian. Jangan memaksa diri untuk menutupi sisi lemah dengan menjadi orang lain. Hal itu sama saja membohongi diri sendiri maupun orang lain. Sehingga dengan menerima apa adanya pasti akan diterima bagi temanmu, tidak perlu takut akan dibenci, dicemo’oh atau dijauhi karena dirimu yang apa adanya. Dengan begitu kamu bisa hidup dengan tenang tanpa adanya kecemasan karena takut dibenci orang lain.
![]() |
| gambar : theultralinx.com |

Komentar
Posting Komentar