Langsung ke konten utama

The Power of Book : "Selamat Tinggal" by Tere Liye

Buku fiksi yang menceritakan tokoh utama bernama Sintong Tinggal merupakan mahasiswa abadi yang memiliki minat dan bakat menulis, menjadi anak rantau dan berbelit akan keadaan dimana terpaksa untuk membantu paman dan buliknya untuk menjaga toko buku bajakan sebagai ganti biaya kuliahnya. Dinamika yang disuguhkan penulis sangat menarik dimana tokoh utama yang notabene-nya penulis merasakan idealisme yang dimiliki turut tergugah setelah banyak ketidakadilan bagi penulis yang dimana karyanya dibajak oleh pengusaha buku bajakan. Tokoh utama tersebut juga sering menulis artikel nasional mengenai pandangannya terhadap bangsa yang sedang tidak baik-baik saja, ia pun aktif di organisasi kepenulisan.

Hingga saatnya ia menemukan harta yang sangat berharga yaitu salah satu buku karya Sutan Pane yang keberadaanya menjadi misteri karena tiba-tiba menghilang dari kepenulisannya pada tahun 1965 bertepatan peristiwa besar terjadi. Sutan Pane bukan penulis biasa yang memiliki dedikasi dan keberanian tinggi dalam mengkritik keadaan bangsa saat itu, karena tujuannya yang menyuarakan kebenaran. Maka tidak salah Sutan Pane sering diburu bagi pihak yang ter-kritik itu. Prinsip dan idealisme-nya membuat beliau tidak takut akan tembakan, sekapan, maupun sejenisnya membuat Sintong sempat berpikir bahwa Sutan Pane telah dibungkam.

Kemudian Sintong menjadikan Sutan Pane objek riset dalam penelitian skripsi atas bonus semester yang diberikan oleh Dekan sekaligus menjadi pembimbing skripsinya. Semua yang berhubungan dengan Sutan Pane ia cari baik artikel koran lama di internet. Hingga ia menemukan yang bisa menjadi narasumber untuk data penelitiannya. Namun tetap nihil, pertanyaannya belum terjawab. Tidak menyerah, waktu terus berjalan ia sembari ia terus memikirkan penyebab Sutan Pane menghilang, ia ingin menulis mengenai pandangannya terhadap fakta politik yang bersifat informatif kepada generasi muda.

Karakter tokoh-tokoh yang dmunculkan juga memiliki latar belakang masalah yang sama. Mengenai tindak kejahatan secara halus dengan menggandakan suatu produk, mulai dari fashion, buku, bahkan obat sekalipun yang menjadi permasalahan tokoh pembantu, banyak yang menjadi korban dari tindakan pemalsuan. Ketidakadilan, kebutaan, pemikiran dangkal yang sering dibicarakan atas tindakan para sindikat itu. Dengan fakta masalah yang dasarnya sama (pada tokoh pembantu) membuat Sintong mencari cara alternatif untuk menguak fakta yang selama ini ia cari, dengan menulis cerpen mengenai Sutan Pane terpampang di koran nasional dan membuahkan hasil, ada narasumber yang sedia menceritakan fakta mengenai hilangnya Sutan Pane.

Ini yang menarik bagi saya, fakta Sutan Pane menghilang dikarenakan rasa malu dalam mendidik adiknya menjadi orang baik dan bermartabat. Mengingat adiknya memiliki track record tabiat yang buruk, tidak membuat Sutan Pane meninggalkan adiknya bahkan ikut merubah menjadi lebih baik. Adiknya pun sudah memiliki tabiat baik saat itu, namun kembali lagi melakukan keburukan bahkan korupsi di tempat kerjanya. Secara tidak langsung ia telah gagal, secara prinsip ia teguh dalam menegakkan kebenaran dan apa yang terjadi? Ia gagal, gagal sebagai kakak dalam mengajarkan nilai kebenaran. Ia tidak hanya menuliskan apa itu kebenaran, tapi juga mengaplikasikan disetiap perilakunya.

Nilai dalam diri Sutan Pane membuat saya tergelitik karena bagi seorang penulis yang sedang membagikan fakta dan seruan juga harus dicerminkan pada diri. Tidak hanya sekedar menulis namun juga harus diamalkan. Semisal untuk apa ada seruan dalam tulisannya harus menjaga kesehatan jika perilakunya saja masih suka begadang? Sangat kontradiksi bukan? Saya akhirnya merasakan apa yang dirasakan oleh Sutan Pane, sungguh memalukan.

Dan bagi pembaca tulisan ini, apakah yang kalian rasakan? Apakah turut tergelitik mengenai nilai Sutan Pane? Atau dari masalah yang diangkat oleh Tere Liye dalam cerita ini yaitu adanya barang palsu yang merugikan pemilik hak yang menjadi paten atas karyanya. Cukup banyak kasus pemalsuan barang dari penjuru negri ini, semuanya melakukan pembajakan produk, menggandakan, menjual-belikan dengan harga murah dan tentunya hanya menguntungkan bagi pelaku. Namun kita sendiri juga tidak sadar akan tindak ilegal itu, dengan menikmati film bajakan, buku bajakan, e-book bajakan, produk bajakan hanya untuk menunjang kebutuhan tanpa mengeluarkan modal banyak. Tanpa memikirkan bagaimana keadaan para pembuat karya yang sedang dirugikan, mereka adalah korban perampokan. Jadi apakah kalian masih merasa nikmat ketika menikmati produk ilegal setelah membaca ini? Hanya manusia yang memiliki kemanusiaan yang bisa menjawabnya.



gambar : Gramedia.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 hari terakhir di bulan Februari

Sudah 2 bulan aku menyibukkan diri untuk bekerja diluar. Cukup menyenangkan dan melelahkan karena namanya juga bekerja pasti ada saja yang menjadi persoalan. Bekerja yang menyenangkan memang ada katanya, orang bilang bekerja sesuai passion yang menjadi idaman banyak orang. Sedangkan masih ada yang belum menemukan passion diri sendiri yang sebernarnya. Bahkan ada yang tidak mengenal dirinya sendiri, mau apa, suka apa, memiliki tujuan dan target apa dan berakhir upload story ‘hidup kok gini-gini aja’. Ada yang bilang kalau hidup tidak melulu soal mengejar tujuan dan target, cukup dijalani dengan begitu adanya. Tidak perlu berlari cukup berjalan dan nikmati perjalanan itu. Aku setuju pendapat itu namun tidak untuk akhir-akhir ini. Aku dijumpai beberapa persoalanku yang sudah menunggu lama untuk diselesaikan. Ternyata 2 bulan bekerja membuatku lengah dengan masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang akan aku putuskan untuk masa depanku, apakah aku akan menyelesaikan yang sudah aku mulai a...

Hikmah Dari Kematian?

Kematian merupakan hal yang masih misterius untuk diketahui yaitu kapan, dimana dan bagaimana akan terjadi pada mahluk hidup. Tidak ada yang tahu tetapi banyak yang berusaha untuk menghindari kematian itu ketika sakit langsung berobat untuk kembali sehat karena sakit merupakan salah satu jalan menuju kematian. Lalu kematian suatu makhluk hidup pastinya akan meninggalkan sesuatu, seperti hewan meninggalkan salah satu bagian tubuhnya-gajah meninggalkan gading dan manusia meninggalkan nama, pastinya sudah tidak asing dengan peribahasa itu. Tentunya manusia tidak akan mau jika mati hanya meninggalkan nama saja, mengingat adanya kebutuhan selain dari sisi spiritual juga terkait sisi aktualisasi selama hidup. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang memiliki pikiran maka apapun caranya ingin menjadi orang yang bermanfaat di sekitarnya dan dikenal sebagai sosok yang baik. Tidak ada yang tahu soal bentuk dan beberapa halaman yang akan ia tuliskan sebagai sejarah kehidupannya oleh...

The Power of Book : “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki” by Baek Se Hee.

“Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?” sebuah persembahan buku dari peyintas pasien distimia (depresi ringan yang berkepanjangan) tidak membuat penulis ingin melakukan bunuh diri, melainkan ingin memakan tteokpokki (jajanan korea yang terbuat dari beras). Buku self improvement ini berisikan catatan percakapan antara penulis dan psikiater yang menanganinya. Sehingga pembaca akan menjumpai sesi diskusi yang cukup panjang. Tiap bahasan berisi permasalahan yang berbeda dan disajikan di tiap bab yang berupa hasil konsultasi rutin penulis selama seminggu sekali. Penulis juga menyampaikan bahwa pembahasan yang disajikan bersifat pribadi dan suram, namun tidak hanya itu yang difokuskan. Melainkan menemukan pernyebab dari permasalahan tersebut melalui situasi spesifik dan berfokus pada cerita yang bergerak ke arah kehidupan yang lebih baik. Harapan penulis juga ingin memberitahukan pada orang diluar sana bahwa tidak hanya dirinya yang mera...