Kenapa tidak melakukan apa yang bisa kamu lakukan untuk menerima kenyataan. Tidak ada yang akan menyanyai tentang bagaimana perasaanmu. Semua serba bodo amat dan tidak mau tahu apakah yang dikatakan telah menyakiti hati orang lain. Egois? Tentu. Dasar orang - orang tidak berperasaan.
Tidak ada yang spesial dari sebuah perasaan, dia menyebalkan dan menjengkelkan. Membuat semua rencana menjadi berantakan ketika semua keputusan diambil alih olehnya. Semua karena perasaan yang berujung egois untuk selalu ingin diprioritaskan,
“Kamu nggak tahu apa yang aku rasakan, jadi tolong ngertiin.”
Mau dimengerti? Hey! Kamu saja tidak ngertiin perasaan orang lain. Lucu sekali
kamu.
Baiklah, aku akan mencoba untuk mengerti, memahami dan merasakan
apa yang orang lain rasakan. Sebutannya adalah Empati. Itu mudah, dengan
menanyakan apa yang sedang dirasakannya. Tapi semoga tidak zonk ya, karena ada orang
– orang tidak mudah menyampaikan apa yang sedang mereka rasakan kecuali
saat bahagia. Seperti galau karena habis putus cinta, bingung karena hidup
tanpa arah yang jelas, marah karena ada orang yang meremehkannya dan lain sebagainya.
Lalu lewat jalur mana kita selain bertanya untuk bisa mengetahui
apa yang dirasakan oleh orang lain? “Apakah kamu tidak peka?” mungkin itu yang
akan dikatakan oleh orang yang ingin dimengerti. Lewat pertanyaan itu, kita
bisa mengetahuinya melalui respon (jawaban) dari stimulus (pertanyaan) yang
kita berikan. Loh, kok lewat jalur bertanya, katanya tidak mungkin terjawab?
Ya, memang. Maksudku mereka tidak akan menjawab secara eksplisit (ekstrinsik/terlihat)
apa yang mereka rasakan sesungguhnya. Kita bisa melihat responnya dari nada
bicara, mimik wajah, bahasa tubuh dan lainnya.
Semisal jika respon mereka dengan nada lesu, ekspresi sendu dan jarang melakukan gerakan walaupun sedikit, kita bisa mengidentifikasikan bahwa dia sedang merasa sedih. Jika respon nada bicara yang ngegas/ tinggi padahal kita bertanya dengan nada santai, mimik wajah flat dengan alis sedikit bertaut dan sering berdecih pada hal-hal yang sepele maka ia sedang merasa marah.
Tapi
perlu diingat, saat mengidentifikasi semua respon yang mereka berikan harus
diluar dari kebiasaan mereka. Kalau respon yang diberikan adalah perilaku
konsisten berarti memang karakternya sudah begitu. Dan yang aku paparkan diatas
adalah respon pada umumnya manusia, jadi kalau menemui manusia dengan karakter
yang unik, ya semua dikembalikan pada pembaca yang mungkin lebih paham karena
sudah saling mengenal.
Dengan mengetahui kondisi perasaan lawan bicara kita, maka kita secara hati-hati dalam melakukan interaksi jika suasana hatinya sedang tidak baik.
Jika lawan bicara sedang sedih maka kita bisa hibur mereka, atau jika
sedang bingung, bisa kita beri pencerahan untuk mencari solusi yang terbaik, dan
jika sedang marah maka kita jauhi saja, nanti takut kena imbas kemarahannya,
haha.
Nah, ketika sudah berempati dengan orang lain, ternyata orang lain
tidak kembali ngertiin kita. Ya gimana ya, kadang orang memang inginnya
dimengerti dan nggak mau balik ngertiin. Awalnya biasa aja, tapi lama
kelamaan juga bikin lelah. Kita sering mementingkan perasaan orang lain dengan
tidak menambah buruk keadaan. Sedangkan kita yang berempati apa kabar? Meminta
untuk dimengerti, nanti malah responnya minta dingertiin lagi. Gitu aja terus, tetap berada di lingkaran setan.
Makanya perihal perasaan ini sangat menyebalkan. Kita mencoba mengerti dan memahami, tetapi malah ikut terlarut dalam perasaan. Kadar kekecewaan akan semakin tinggi terjadi pada orang yang jarang berempati. Bahkan kita sudah memiliki kebiasaan empati, kita jadi lebih peka dan lebih mudah terbawa perasaan. Mungkin dari sudut pandang orang lain bilang kalau “Ah itu mah kamu yang baperan, jangan diambil hati lah” lah memang baper.
Gini ya, pentingnya menyeimbangkan perasaan dan pikiran. Adanya
pikiran ini membuat kita bisa mengendalikan perasaan, dan benar saja. Kerja pikiran
ini akan menuntun kita untuk tidak terlarut dalam perasaan. Seperti
mempertanyakan kembali, perlukah untuk berempati dengan orang yang egois? Memangnya
tujuan kita berempati itu untuk apa? Apa kita akan meminta imbalan setelah kita
berempati? Dan pertanyaan pengantar lainnya.
Jika sudah tersadarkan maka tidak akan lama berlarut dalam perasaan. Jadi paham ternyata sudah berempati pada orang yang salah atau sudah terlalu berharap akan dimengerti kembali dan tidak berekspetasi terlalu tinggi.
| gambar : freepik.com |
Komentar
Posting Komentar