Langsung ke konten utama

Empati Berujung Baper

Kenapa tidak melakukan apa yang bisa kamu lakukan untuk menerima kenyataan. Tidak ada yang akan menyanyai tentang bagaimana perasaanmu. Semua serba bodo amat dan tidak mau tahu apakah yang dikatakan telah menyakiti hati orang lain. Egois? Tentu. Dasar orang - orang tidak berperasaan.

Tidak ada yang spesial dari sebuah perasaan, dia menyebalkan dan menjengkelkan. Membuat semua rencana menjadi berantakan ketika semua keputusan diambil alih olehnya. Semua karena perasaan yang berujung egois untuk selalu ingin diprioritaskan, 

“Kamu nggak tahu apa yang aku rasakan, jadi tolong ngertiin.” Mau dimengerti? Hey! Kamu saja tidak ngertiin perasaan orang lain. Lucu sekali kamu.

Baiklah, aku akan mencoba untuk mengerti, memahami dan merasakan apa yang orang lain rasakan. Sebutannya adalah Empati. Itu mudah, dengan menanyakan apa yang sedang dirasakannya. Tapi semoga tidak zonk ya, karena ada orang – orang tidak mudah menyampaikan apa yang sedang mereka rasakan kecuali saat bahagia. Seperti galau karena habis putus cinta, bingung karena hidup tanpa arah yang jelas, marah karena ada orang yang meremehkannya dan lain sebagainya.

Lalu lewat jalur mana kita selain bertanya untuk bisa mengetahui apa yang dirasakan oleh orang lain? “Apakah kamu tidak peka?” mungkin itu yang akan dikatakan oleh orang yang ingin dimengerti. Lewat pertanyaan itu, kita bisa mengetahuinya melalui respon (jawaban) dari stimulus (pertanyaan) yang kita berikan. Loh, kok lewat jalur bertanya, katanya tidak mungkin terjawab? Ya, memang. Maksudku mereka tidak akan menjawab secara eksplisit (ekstrinsik/terlihat) apa yang mereka rasakan sesungguhnya. Kita bisa melihat responnya dari nada bicara, mimik wajah, bahasa tubuh dan lainnya.

Semisal jika respon mereka dengan nada lesu, ekspresi sendu dan jarang melakukan gerakan walaupun sedikit, kita bisa mengidentifikasikan bahwa dia sedang merasa sedih. Jika respon nada bicara yang ngegas/ tinggi padahal kita bertanya dengan nada santai, mimik wajah flat dengan alis sedikit bertaut dan sering berdecih pada hal-hal yang sepele maka ia sedang merasa marah. 

Tapi perlu diingat, saat mengidentifikasi semua respon yang mereka berikan harus diluar dari kebiasaan mereka. Kalau respon yang diberikan adalah perilaku konsisten berarti memang karakternya sudah begitu. Dan yang aku paparkan diatas adalah respon pada umumnya manusia, jadi kalau menemui manusia dengan karakter yang unik, ya semua dikembalikan pada pembaca yang mungkin lebih paham karena sudah saling mengenal.

Dengan mengetahui kondisi perasaan lawan bicara kita, maka kita secara hati-hati dalam melakukan interaksi jika suasana hatinya sedang tidak baik. 

Jika lawan bicara sedang sedih maka kita bisa hibur mereka, atau jika sedang bingung, bisa kita beri pencerahan untuk mencari solusi yang terbaik, dan jika sedang marah maka kita jauhi saja, nanti takut kena imbas kemarahannya, haha.

Nah, ketika sudah berempati dengan orang lain, ternyata orang lain tidak kembali ngertiin kita. Ya gimana ya, kadang orang memang inginnya dimengerti dan nggak mau balik ngertiin. Awalnya biasa aja, tapi lama kelamaan juga bikin lelah. Kita sering mementingkan perasaan orang lain dengan tidak menambah buruk keadaan. Sedangkan kita yang berempati apa kabar? Meminta untuk dimengerti, nanti malah responnya minta dingertiin lagi. Gitu aja terus, tetap berada di lingkaran setan.

Makanya perihal perasaan ini sangat menyebalkan. Kita mencoba mengerti dan memahami, tetapi malah ikut terlarut dalam perasaan. Kadar kekecewaan akan semakin tinggi terjadi pada orang yang jarang berempati. Bahkan kita sudah memiliki kebiasaan empati, kita jadi lebih peka dan lebih mudah terbawa perasaan. Mungkin dari sudut pandang orang lain bilang kalau “Ah itu mah kamu yang baperan, jangan diambil hati lah” lah memang baper.

Gini ya, pentingnya menyeimbangkan perasaan dan pikiran. Adanya pikiran ini membuat kita bisa mengendalikan perasaan, dan benar saja. Kerja pikiran ini akan menuntun kita untuk tidak terlarut dalam perasaan. Seperti mempertanyakan kembali, perlukah untuk berempati dengan orang yang egois? Memangnya tujuan kita berempati itu untuk apa? Apa kita akan meminta imbalan setelah kita berempati? Dan pertanyaan pengantar lainnya.

Jika sudah tersadarkan maka tidak akan lama berlarut dalam perasaan. Jadi paham ternyata sudah berempati pada orang yang salah atau sudah terlalu berharap akan dimengerti kembali dan tidak berekspetasi terlalu tinggi.

gambar : freepik.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan yang Menyenangkan

Benarkah menyenangkan? Bukannya yang kita temui hanyalah jalanan yang padat akan kendaraan bahkan kemacetan dan kebisingan dari suara klakson yang saling bersautan ketika berebut jalan supaya sampai ke tujuan tepat waktu. Atau dalam perjalanan hidup yang kini makin amburadul, seperti adanya pandemi yang sudah lama bertengger dan tidak mau pergi, belum lagi masalah baik dari pekerjaan, sekolah, rumah, bahkan diri sendiri. Semuanya seakan bersatu padu menjadi gado-gado, hehe saya laper... Tapi kita coba pahami dulu arti perjalanan, yaitu proses perpindahan dari tempat ke tempat lain; adanya pergerakan. Jadi memang benar perjalanan identik dengan kondisi jalanan saat melakukan proses perpindahan. Lalu memangnya apa yang akan dibahas mengenai perjalanan? Mari dimulai dengan pengalaman saya selama sekolah dahulu, dimana berangkat ke sekolah dengan angkutan umum bis antar kota. Karena jarak antar rumah ke sekolah sekitar 15km dan waktu tempuh memakan waktu 30 menit. Itu terjadi juga ketika...

The Power of Book : “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki” by Baek Se Hee.

“Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?” sebuah persembahan buku dari peyintas pasien distimia (depresi ringan yang berkepanjangan) tidak membuat penulis ingin melakukan bunuh diri, melainkan ingin memakan tteokpokki (jajanan korea yang terbuat dari beras). Buku self improvement ini berisikan catatan percakapan antara penulis dan psikiater yang menanganinya. Sehingga pembaca akan menjumpai sesi diskusi yang cukup panjang. Tiap bahasan berisi permasalahan yang berbeda dan disajikan di tiap bab yang berupa hasil konsultasi rutin penulis selama seminggu sekali. Penulis juga menyampaikan bahwa pembahasan yang disajikan bersifat pribadi dan suram, namun tidak hanya itu yang difokuskan. Melainkan menemukan pernyebab dari permasalahan tersebut melalui situasi spesifik dan berfokus pada cerita yang bergerak ke arah kehidupan yang lebih baik. Harapan penulis juga ingin memberitahukan pada orang diluar sana bahwa tidak hanya dirinya yang mera...

7 hari terakhir di bulan Februari

Sudah 2 bulan aku menyibukkan diri untuk bekerja diluar. Cukup menyenangkan dan melelahkan karena namanya juga bekerja pasti ada saja yang menjadi persoalan. Bekerja yang menyenangkan memang ada katanya, orang bilang bekerja sesuai passion yang menjadi idaman banyak orang. Sedangkan masih ada yang belum menemukan passion diri sendiri yang sebernarnya. Bahkan ada yang tidak mengenal dirinya sendiri, mau apa, suka apa, memiliki tujuan dan target apa dan berakhir upload story ‘hidup kok gini-gini aja’. Ada yang bilang kalau hidup tidak melulu soal mengejar tujuan dan target, cukup dijalani dengan begitu adanya. Tidak perlu berlari cukup berjalan dan nikmati perjalanan itu. Aku setuju pendapat itu namun tidak untuk akhir-akhir ini. Aku dijumpai beberapa persoalanku yang sudah menunggu lama untuk diselesaikan. Ternyata 2 bulan bekerja membuatku lengah dengan masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang akan aku putuskan untuk masa depanku, apakah aku akan menyelesaikan yang sudah aku mulai a...