Kamu kenapa marah? Apa yang salah dengan kamu? Bagaimana kamu bisa seperti ini? Dan pertanyaan mengenai keadaan lainnya. Pertanyaan itu muncul ketika sedang mengalami kebingungan terhadap diri sendiri. Seakan ada yang memperhatikan dan mengkonfirmasi apakah sedang terjadi sesuatu.
Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan ini. Bertanya
tentang keadaanku apakah hal ini lumrah terjadi di setiap manusia, atau hanya diriku
saja yang demikian. Iya, aku ini aneh, sudah cukupkah? *Haha tidak, aku ini
unik dan langka, bukankah menjadi minoritas adalah sesuatu yang membanggakan?
Nah, baru saja terjadi seakan ada bisikan yang menyangkal
keresahanku. Seperti aku tidak boleh merasa cemas akan apa yang sedang terjadi
kepadaku. Memaksaku untuk tetap menjadi diriku yang kuat, cuek, bahkan
memberikan reaksi flat setiap saat. Memang sih, itu membuatku menjadi tidak
berperasaan. Karena memang tidak ada yang mempersilahkan untuk meluapkan segala emosi
negatif yang kualami sejenak. Diriku sendiri saja tidak mengijinkan. *Hey,
untuk apa aku harus meluapkan emosi yang sedang kurasakan. Nggak perlu, aku
baik-baik saja. Stay Calm bro. Hmm, terjadi lagi bukan?
Tapi ini juga bisa menjadi kontrol diriku disaat ada yang
menstimulus untuk marah, sedih, dan emosi lainnya. Intinya tidak mudah terbawa perasaan.
*Karena memang perasaan itu tidak penting, membuatku menjadi bermalas-malasan,
lemah dan berdampak buruk untukku.
Siapapun kamu diamlah sejenak. Aku menjadi bingung akan diriku
sendiri. #Hey, setidaknya aku bisa terhindarkan dari lubang hitam yang membuat
aku menderita karena perasaan negatif, namun apa yang terjadi, aku merasa
bahagia melakukannya. (Kini nilai dalam diri yang berbicara) dan semoga saja
menjadi penengah dari keributan diatas.
Dan ya, yang membuat keributan adalah pikiran dan perasaanku. Dimana
perasaan ingin diprioritaskan dan diijinkan untuk mendominasi pikiran maupun
mendukung pikiran yang kurang logis (tidak objektif). Seperti adanya kecemasan
yang berawal dari berpikir mengenai kebingungan yang terjadi pada diri sendiri
dan perasaan cemas yang mendukung (dominan).
Memang sih, sampai kapanpun perasaan dan pikiran tidak akan pernah
selaras dan saling bertentangan. Kalaupun memaksanya, kita akan berakhir kesal
sendiri. Tapi dalam proses penyelarasan ini kita juga akan belajar secara mengamati
pengalaman kita sendiri. Kita juga akan lebih paham betul mengenai pikiran dan
perasaan yang terjadi, hal ini bisa menganggap adanya kesadaran akan pikiran dan
perasaan.
Dibandingkan dengan overthinking, ini bisa kusebut dengan self
knowledge dimana yang berarti memiliki pemahaman mengenai diri sendiri. Kita bisa paham betul kalau
sedang tidak baik-baik saja. Jika sudah menyadarinya maka kita juga melakukan
analisa untuk mencari solusinya. Apakah perlu bantuan orang yang ahli atau
hanya kita sendiri yang mampu menyembuhkannya.
Dengan memiliki kesadaran akan diri sendiri, kita juga bisa
menjadikan hal ini penerimaan akan hal apa yang tidak bisa kita
kendalikan. Bukan berarti pasrah, kita hanya menerima kalau memang sudah
terjadi dan tidak bisa dirubah sesuai kehendak kita. Yang perlu kita lakukan
dengan pikiran dan perasaan yang tidak selaras, kita bisa mendudukan perasaaan
dan pikiran secara tepat. Dimana dalam mengambil keputusan yang melibatkan
pikiran dan perasaan.
| gambar : freepik.com |
Komentar
Posting Komentar