Langsung ke konten utama

Keributan Dalam Diri

Kamu kenapa marah? Apa yang salah dengan kamu? Bagaimana kamu bisa seperti ini? Dan pertanyaan mengenai keadaan lainnya. Pertanyaan itu muncul ketika sedang mengalami kebingungan terhadap diri sendiri. Seakan ada yang memperhatikan dan mengkonfirmasi apakah sedang terjadi sesuatu.

Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan ini. Bertanya tentang keadaanku apakah hal ini lumrah terjadi di setiap manusia, atau hanya diriku saja yang demikian. Iya, aku ini aneh, sudah cukupkah? *Haha tidak, aku ini unik dan langka, bukankah menjadi minoritas adalah sesuatu yang membanggakan?

Nah, baru saja terjadi seakan ada bisikan yang menyangkal keresahanku. Seperti aku tidak boleh merasa cemas akan apa yang sedang terjadi kepadaku. Memaksaku untuk tetap menjadi diriku yang kuat, cuek, bahkan memberikan reaksi flat setiap saat. Memang sih, itu membuatku menjadi tidak berperasaan. Karena memang tidak ada yang mempersilahkan untuk meluapkan segala emosi negatif yang kualami sejenak. Diriku sendiri saja tidak mengijinkan. *Hey, untuk apa aku harus meluapkan emosi yang sedang kurasakan. Nggak perlu, aku baik-baik saja. Stay Calm bro. Hmm, terjadi lagi bukan?

Tapi ini juga bisa menjadi kontrol diriku disaat ada yang menstimulus untuk marah, sedih, dan emosi lainnya. Intinya tidak mudah terbawa perasaan. *Karena memang perasaan itu tidak penting, membuatku menjadi bermalas-malasan, lemah dan berdampak buruk untukku.

Siapapun kamu diamlah sejenak. Aku menjadi bingung akan diriku sendiri. #Hey, setidaknya aku bisa terhindarkan dari lubang hitam yang membuat aku menderita karena perasaan negatif, namun apa yang terjadi, aku merasa bahagia melakukannya. (Kini nilai dalam diri yang berbicara) dan semoga saja menjadi penengah dari keributan diatas.

Dan ya, yang membuat keributan adalah pikiran dan perasaanku. Dimana perasaan ingin diprioritaskan dan diijinkan untuk mendominasi pikiran maupun mendukung pikiran yang kurang logis (tidak objektif). Seperti adanya kecemasan yang berawal dari berpikir mengenai kebingungan yang terjadi pada diri sendiri dan perasaan cemas yang mendukung (dominan).

Memang sih, sampai kapanpun perasaan dan pikiran tidak akan pernah selaras dan saling bertentangan. Kalaupun memaksanya, kita akan berakhir kesal sendiri. Tapi dalam proses penyelarasan ini kita juga akan belajar secara mengamati pengalaman kita sendiri. Kita juga akan lebih paham betul mengenai pikiran dan perasaan yang terjadi, hal ini bisa menganggap adanya kesadaran akan pikiran dan perasaan.

Dibandingkan dengan overthinking, ini bisa kusebut dengan self knowledge dimana yang berarti memiliki pemahaman mengenai diri sendiri. Kita bisa paham betul kalau sedang tidak baik-baik saja. Jika sudah menyadarinya maka kita juga melakukan analisa untuk mencari solusinya. Apakah perlu bantuan orang yang ahli atau hanya kita sendiri yang mampu menyembuhkannya.

Dengan memiliki kesadaran akan diri sendiri, kita juga bisa menjadikan hal ini penerimaan akan hal apa yang tidak bisa kita kendalikan. Bukan berarti pasrah, kita hanya menerima kalau memang sudah terjadi dan tidak bisa dirubah sesuai kehendak kita. Yang perlu kita lakukan dengan pikiran dan perasaan yang tidak selaras, kita bisa mendudukan perasaaan dan pikiran secara tepat. Dimana dalam mengambil keputusan yang melibatkan pikiran dan perasaan.

gambar : freepik.com



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan yang Menyenangkan

Benarkah menyenangkan? Bukannya yang kita temui hanyalah jalanan yang padat akan kendaraan bahkan kemacetan dan kebisingan dari suara klakson yang saling bersautan ketika berebut jalan supaya sampai ke tujuan tepat waktu. Atau dalam perjalanan hidup yang kini makin amburadul, seperti adanya pandemi yang sudah lama bertengger dan tidak mau pergi, belum lagi masalah baik dari pekerjaan, sekolah, rumah, bahkan diri sendiri. Semuanya seakan bersatu padu menjadi gado-gado, hehe saya laper... Tapi kita coba pahami dulu arti perjalanan, yaitu proses perpindahan dari tempat ke tempat lain; adanya pergerakan. Jadi memang benar perjalanan identik dengan kondisi jalanan saat melakukan proses perpindahan. Lalu memangnya apa yang akan dibahas mengenai perjalanan? Mari dimulai dengan pengalaman saya selama sekolah dahulu, dimana berangkat ke sekolah dengan angkutan umum bis antar kota. Karena jarak antar rumah ke sekolah sekitar 15km dan waktu tempuh memakan waktu 30 menit. Itu terjadi juga ketika...

The Power of Book : “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki” by Baek Se Hee.

“Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?” sebuah persembahan buku dari peyintas pasien distimia (depresi ringan yang berkepanjangan) tidak membuat penulis ingin melakukan bunuh diri, melainkan ingin memakan tteokpokki (jajanan korea yang terbuat dari beras). Buku self improvement ini berisikan catatan percakapan antara penulis dan psikiater yang menanganinya. Sehingga pembaca akan menjumpai sesi diskusi yang cukup panjang. Tiap bahasan berisi permasalahan yang berbeda dan disajikan di tiap bab yang berupa hasil konsultasi rutin penulis selama seminggu sekali. Penulis juga menyampaikan bahwa pembahasan yang disajikan bersifat pribadi dan suram, namun tidak hanya itu yang difokuskan. Melainkan menemukan pernyebab dari permasalahan tersebut melalui situasi spesifik dan berfokus pada cerita yang bergerak ke arah kehidupan yang lebih baik. Harapan penulis juga ingin memberitahukan pada orang diluar sana bahwa tidak hanya dirinya yang mera...

7 hari terakhir di bulan Februari

Sudah 2 bulan aku menyibukkan diri untuk bekerja diluar. Cukup menyenangkan dan melelahkan karena namanya juga bekerja pasti ada saja yang menjadi persoalan. Bekerja yang menyenangkan memang ada katanya, orang bilang bekerja sesuai passion yang menjadi idaman banyak orang. Sedangkan masih ada yang belum menemukan passion diri sendiri yang sebernarnya. Bahkan ada yang tidak mengenal dirinya sendiri, mau apa, suka apa, memiliki tujuan dan target apa dan berakhir upload story ‘hidup kok gini-gini aja’. Ada yang bilang kalau hidup tidak melulu soal mengejar tujuan dan target, cukup dijalani dengan begitu adanya. Tidak perlu berlari cukup berjalan dan nikmati perjalanan itu. Aku setuju pendapat itu namun tidak untuk akhir-akhir ini. Aku dijumpai beberapa persoalanku yang sudah menunggu lama untuk diselesaikan. Ternyata 2 bulan bekerja membuatku lengah dengan masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang akan aku putuskan untuk masa depanku, apakah aku akan menyelesaikan yang sudah aku mulai a...