Langsung ke konten utama

Mengapa Kebenaran Terasa Pahit Jika Diketahui?

Kuakui memang tidak mengenakkan, jika memang kebenaran tidak terasa pahit, mengapa banyak orang yang memilih untuk menutupi kebenaran? Atau ada yang menolak kebenaran padahal bisa dipertanggungjawabkan? Tidak mengerti apa yang dipikirkan orang-orang karena pernyataan ini masih bersifat relatif. Ada orang yang menginginkan sebuah kebenaran dari penyataan yang abu-abu supaya mendapatkan kejelasan. Ada juga yang ingin menghindari kebenaran karena ada gambaran jika mengetahui yang sebenarnya akan menyakitkan.

Aku menemukan pola dari realitas mengenai kebenaran, orang akan menerima kebenaran jika kebenaran itu linear dengan ekspetasinya. Semisal saat mendengar suara notifikasi pesan pada ponsel mungkin orang yang kesepian menganggap ada yang menghubunginya walau hanya sekedar sapaan ‘hai’, ternyata pesan dari nomor anonim yang menawarkan pinjaman online. Kan jadi tidak linear dengan ekspetasinya. Penyataan itu sejalan dengan qoutes yang kutemukan dari Friedrich Nietzsche yang menyatakan “Terkadang orang tidak ingin mendengar kebenaran karena mereka tidak ingin ilusi mereka dihancurkan”

Yah, hal itu mungkin bisa diatasi dengan pengendalian diri untuk tidak membuat ekspetasi yang telalu tinggi, supaya tidak terlalu jatuh akan realita yang menyakitkan.

Kemudian, kebenaran ini juga terkait dengan kepercayaan, kita pasti akan mempercayai sesuatu yang benar kan? Tidak mungkin kita percaya yang masih abu-abu/ belum mutlak benar dan belum bisa dipertanggungjawabkan. Ini sering terjadi di relasi manusia, dimana jika ada salah satu yang berbohong pasti akan membuat orang yang memiliki harapan tinggi terhadapnya merasa kecewa dan dan hikang kepercayaan. Benar bukan? Seperti dalam hubungan pertemanan, percintaan, keluarga, atau relasi yang terjalin karena keterikatan emosional lainnya.

Karena menyangkut kepercayaan maka kebenaran juga menjadi masalah yang kompleks jika terus-menerus disembunyikan. Di sisi yang berharap akan semakin berekspetasi tinggi dan akan merasa dikhianati oleh orang yang dipercayainya jika kebenarannya terbongkar. Dan mendapatkan label ‘orang yang tidak dapat dipercaya’.

Kuingatkan tidak ada istilah pengecut dalam kasus ini, semua pasti ada pertimbangan yang matang untuk mengukur apakah kebenaran ini layak dan berdampak baik/ buruk setelah dibongkar. Semuanya berhak memilih mana yang terbaik bukan? Jika memang kebenaran itu menyakitkan sesaat namun memberikan kedamaian hidup maka untuk apa masih disembunyikan?

Hanya saja, jika masih menyembunyikan kebenaran, hidupnya terasa sangat melelahkan karena harus mencari kebohongan lagi untuk menutupinya. Dengan hidup diampingi ketidaknyamanan dan rasa bersalah jangka panjang. Jadi untuk para pembaca diluar sana ada yang merasakan hal yang sama? Apakah tulisanku akan membuatmu memikirkannya? Kalau kata mbak Yura “Tenang tenang yang tak kunjung datang.” So, ingin hidup tenang? Ayo jujur, bisa saja kan yang kita anggap kebenaran ini menyakitkan hanya dari perspektif kita sendiri.

Maka dengan memberitahukan kebenaran yang memang bisa dipertanggungjawabkan, pasti akan diterima walaupun menyakitkan. Toh, rasa sakit yang diberikan hanya sejenak dan bisa mengantisipasi tingginya kadar kekecewaan yang akan terjadi. Kalau masih belum bisa menerima? Itu bebal namanya, haha. Ada peribahasa untuk kalian yang ingin mengutarakan kebenaran.

"Bicaralah yang sebenarnya, tetapi segera pergilah setelahnya." Alias kabur jika tidak kuat menerima kemarahan dari orang yang kita bohongi, hehe. Jangan lupa tersenyum 😊

gambar : freepik.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan yang Menyenangkan

Benarkah menyenangkan? Bukannya yang kita temui hanyalah jalanan yang padat akan kendaraan bahkan kemacetan dan kebisingan dari suara klakson yang saling bersautan ketika berebut jalan supaya sampai ke tujuan tepat waktu. Atau dalam perjalanan hidup yang kini makin amburadul, seperti adanya pandemi yang sudah lama bertengger dan tidak mau pergi, belum lagi masalah baik dari pekerjaan, sekolah, rumah, bahkan diri sendiri. Semuanya seakan bersatu padu menjadi gado-gado, hehe saya laper... Tapi kita coba pahami dulu arti perjalanan, yaitu proses perpindahan dari tempat ke tempat lain; adanya pergerakan. Jadi memang benar perjalanan identik dengan kondisi jalanan saat melakukan proses perpindahan. Lalu memangnya apa yang akan dibahas mengenai perjalanan? Mari dimulai dengan pengalaman saya selama sekolah dahulu, dimana berangkat ke sekolah dengan angkutan umum bis antar kota. Karena jarak antar rumah ke sekolah sekitar 15km dan waktu tempuh memakan waktu 30 menit. Itu terjadi juga ketika...

The Power of Book : “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki” by Baek Se Hee.

“Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?” sebuah persembahan buku dari peyintas pasien distimia (depresi ringan yang berkepanjangan) tidak membuat penulis ingin melakukan bunuh diri, melainkan ingin memakan tteokpokki (jajanan korea yang terbuat dari beras). Buku self improvement ini berisikan catatan percakapan antara penulis dan psikiater yang menanganinya. Sehingga pembaca akan menjumpai sesi diskusi yang cukup panjang. Tiap bahasan berisi permasalahan yang berbeda dan disajikan di tiap bab yang berupa hasil konsultasi rutin penulis selama seminggu sekali. Penulis juga menyampaikan bahwa pembahasan yang disajikan bersifat pribadi dan suram, namun tidak hanya itu yang difokuskan. Melainkan menemukan pernyebab dari permasalahan tersebut melalui situasi spesifik dan berfokus pada cerita yang bergerak ke arah kehidupan yang lebih baik. Harapan penulis juga ingin memberitahukan pada orang diluar sana bahwa tidak hanya dirinya yang mera...

7 hari terakhir di bulan Februari

Sudah 2 bulan aku menyibukkan diri untuk bekerja diluar. Cukup menyenangkan dan melelahkan karena namanya juga bekerja pasti ada saja yang menjadi persoalan. Bekerja yang menyenangkan memang ada katanya, orang bilang bekerja sesuai passion yang menjadi idaman banyak orang. Sedangkan masih ada yang belum menemukan passion diri sendiri yang sebernarnya. Bahkan ada yang tidak mengenal dirinya sendiri, mau apa, suka apa, memiliki tujuan dan target apa dan berakhir upload story ‘hidup kok gini-gini aja’. Ada yang bilang kalau hidup tidak melulu soal mengejar tujuan dan target, cukup dijalani dengan begitu adanya. Tidak perlu berlari cukup berjalan dan nikmati perjalanan itu. Aku setuju pendapat itu namun tidak untuk akhir-akhir ini. Aku dijumpai beberapa persoalanku yang sudah menunggu lama untuk diselesaikan. Ternyata 2 bulan bekerja membuatku lengah dengan masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang akan aku putuskan untuk masa depanku, apakah aku akan menyelesaikan yang sudah aku mulai a...