Langsung ke konten utama

Mengapa Ambisius Terkesan Negatif?

Ambisi, kata yang memiliki makna semangat dan tidak pantang menyerah untuk meraih suatu yang diinginkan. Tapi, ambisi ini memiliki pandangan yang kurang baik karena selalu terikat pada tokoh yang sangat angkuh, tidak mau kalah dan mau menang sendiri. Sehingga membuat kata ambisi memiliki kesan negatif.

Mungkin juga terjadi pada lingkungan kita, dimana ada orang yang di cap ambisius merasa tidak nyaman dan tidak terima. Hingga berakhir perdebatan yang berujung kata ambisi yang bersalah. Menganggap bahwa ambisi adalah suatu yang negatif, membuat orang-orang pun tidak ingin memiliki ambisi dalam melakukan sesuatu..

Seperti memiliki ambisi dalam mengerjakan tugas sekolah maupun kuliah, bahkan di dunia pekerjaan sekalipun. Tidak banyak yang terima kalau dianggap ‘orang ambis’. Mungkin karena budaya kita yang memiliki anggapan “Jangan ngoyo banget kalo kerja/nugas, santai aja” sehingga membuat kita cenderung mengulur waktu dalam mengerjakan suatu pekerjaan seperti terlalu mepet dengan deadline, hanya belajar menjelang ujian dan sebagainya.

Jadi terlalu bersemangat dalam mengerjakan adalah hal yang ingin dijauhi, alih-alih untuk menghindari pandangan orang terhadap dirinya bahwa ia bukan orang ambisius. Disini aku juga bingung, memangnya apa yang salah dengan sifat ambisius? Bukannya mengerjakan suatu pekerjaan dengan semangat untuk mencapai tujuannya bukan hal yang salah. Jika baik maka lakukanlah, tidak perlu takut akan anggapan orang-orang. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda dan bisa jadi tidak jauh dari nilai subjektifnya.

Maka aku menganggap standar penilaian orang tentang ambisius juga berbeda. Ada yang menganggap tepat waktu mengumpulkan tugas adalah salah satu sifat ambisius ada yang tidak, ada juga dalam belajar setiap waktu, ada yang mengejar nilai A dengan melakukan perbaikan nilai walaupun sudah mendapatkan nilai B+. Dan ingin menjadi nomor 1 hingga menjatuhkan lawannya dengan melakukan segala cara bisa juga dianggap ambisius.

Sehingga tidak perlu risau jika ada orang yang memberi label ‘orang ambis’. Memiliki ambisi untuk mencapai tujuan adalah hal yang baik. Bahkan bisa membentuk karakter bersungguh-sungguh dalam mengerjakan pekerjaan, pantang menyerah sebelum tugas terselesaikan dan masih banyak lagi.

Hal itu tidak jadi masalah jika tidak merugikan orang lain, lain halnya seperti melakukan tindak segala cara untuk menjatuhkan lawan. Dengan kompetisi secara sehat dan melakukannya dengan penuh semangat dan pantang menyerah maka bisa menghasilkan sesuatu yang maksimal juga. So, keep going!

gambar : freepik.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 hari terakhir di bulan Februari

Sudah 2 bulan aku menyibukkan diri untuk bekerja diluar. Cukup menyenangkan dan melelahkan karena namanya juga bekerja pasti ada saja yang menjadi persoalan. Bekerja yang menyenangkan memang ada katanya, orang bilang bekerja sesuai passion yang menjadi idaman banyak orang. Sedangkan masih ada yang belum menemukan passion diri sendiri yang sebernarnya. Bahkan ada yang tidak mengenal dirinya sendiri, mau apa, suka apa, memiliki tujuan dan target apa dan berakhir upload story ‘hidup kok gini-gini aja’. Ada yang bilang kalau hidup tidak melulu soal mengejar tujuan dan target, cukup dijalani dengan begitu adanya. Tidak perlu berlari cukup berjalan dan nikmati perjalanan itu. Aku setuju pendapat itu namun tidak untuk akhir-akhir ini. Aku dijumpai beberapa persoalanku yang sudah menunggu lama untuk diselesaikan. Ternyata 2 bulan bekerja membuatku lengah dengan masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang akan aku putuskan untuk masa depanku, apakah aku akan menyelesaikan yang sudah aku mulai a...

Hikmah Dari Kematian?

Kematian merupakan hal yang masih misterius untuk diketahui yaitu kapan, dimana dan bagaimana akan terjadi pada mahluk hidup. Tidak ada yang tahu tetapi banyak yang berusaha untuk menghindari kematian itu ketika sakit langsung berobat untuk kembali sehat karena sakit merupakan salah satu jalan menuju kematian. Lalu kematian suatu makhluk hidup pastinya akan meninggalkan sesuatu, seperti hewan meninggalkan salah satu bagian tubuhnya-gajah meninggalkan gading dan manusia meninggalkan nama, pastinya sudah tidak asing dengan peribahasa itu. Tentunya manusia tidak akan mau jika mati hanya meninggalkan nama saja, mengingat adanya kebutuhan selain dari sisi spiritual juga terkait sisi aktualisasi selama hidup. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang memiliki pikiran maka apapun caranya ingin menjadi orang yang bermanfaat di sekitarnya dan dikenal sebagai sosok yang baik. Tidak ada yang tahu soal bentuk dan beberapa halaman yang akan ia tuliskan sebagai sejarah kehidupannya oleh...

The Power of Book : “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki” by Baek Se Hee.

“Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?” sebuah persembahan buku dari peyintas pasien distimia (depresi ringan yang berkepanjangan) tidak membuat penulis ingin melakukan bunuh diri, melainkan ingin memakan tteokpokki (jajanan korea yang terbuat dari beras). Buku self improvement ini berisikan catatan percakapan antara penulis dan psikiater yang menanganinya. Sehingga pembaca akan menjumpai sesi diskusi yang cukup panjang. Tiap bahasan berisi permasalahan yang berbeda dan disajikan di tiap bab yang berupa hasil konsultasi rutin penulis selama seminggu sekali. Penulis juga menyampaikan bahwa pembahasan yang disajikan bersifat pribadi dan suram, namun tidak hanya itu yang difokuskan. Melainkan menemukan pernyebab dari permasalahan tersebut melalui situasi spesifik dan berfokus pada cerita yang bergerak ke arah kehidupan yang lebih baik. Harapan penulis juga ingin memberitahukan pada orang diluar sana bahwa tidak hanya dirinya yang mera...