Langsung ke konten utama

Pemendam jadi Pendendam?

Apakah ada yang kebingungan dengan judulnya, haha. Siapa nih yang suka memendam perasaan, memendam pikiran, memendam harta karun? Ah, tidak untuk opsi terakhir. Memendam adalah kegiatan menanam, kalau konteks ini ya menanam pikiran dan perasaan. Merasa marah setelah ada orang yang meremehkan, tapi tetap diam. Sedang sakit hati setelah diejek dengan embel-embel bercanda tapi bilangnya ‘gapapa’ dan ikut tertawa. Sedang bingung tapi nggak bertanya untuk mencari kejelasan karena takut dan memilih untuk overthinking. Semuanya berawal dari respon pada diri manusia terhadap sesuatu di konteks tertentu, namun memilih untuk menyimpannya karena berpikir jika dicurahkan akan menghancurkan suasana.

Atau sebagian orang menganggap perasaan itu tidak perlu diperpanjang, cukup kendalikan dan diam. Karena memang untuk mengikuti perasaan terasa buang-buang waktu saja. Hmm, pengendalian perasaan yang bagus. Tidak disengaja dalam masa pengalihan perasaan ada yang sedang merencanakan untuk melakukan balas dendam. “Lihat aja nanti, akan kubalas!” begitukah? Sepertinya ada yang mengajak baku hantam disini.

Lalu bagaimana jika kebiasaan memendam ini bisa memunculkan efek jangka panjang? Dimana dinding pertahanan tanggul akan jebol akibat kelebihan muatan. Tidak ada yang tahu, mungkin seperti bom yang sudah saatnya meledak karena sumbunya habis. Dan jadilah bencana perasaan, semua keluhan yang terpendam akan berhamburan kesana-kemari seperti bulu yang keluar dari bantal ketika menerima hempasan.

Tapi, coba kita lihat kembali. Dalam balas dendam ini apakah harus membalasnya dengan perilaku yang sama? Tentu saja, diibaratkan seperti nyawa dibalas oleh nyawa. Dan apa yang terjadi? Bentrok antar pertemanan maupun relasi yang sudah dijalin cukup lama. Dampak yang diberikan ternyata diluar perkiraan, tujuannya ingin menyadarkan mereka malah berakhir terputusnya suatu hubungan.

Nah, sebelum semua itu terjadi, bagaimana jika kita merubah balas dendam kita menjadi sesuatu yang membangun dan positif. Seperti untuk orang yang sudah meremehkan kita, kita balas dengan pencapaian dan kompetensi yang sudah diraih. Dan untuk orang yang menyakiti hati kita dengan candaan, menyadarkan mereka dengan pernyataan yang halus namun sedikit menohok. Anggap saja itu candaan juga, haha.

Sehingga dalam pengendalian emosi untuk mengantisipasi adanya bentrok antar diri dengan orang lain yaitu mampu menerima apa yang tidak bisa kita kendalikan. Yang berarti pihak eksternal sebagai stimulus emosi kita. Jadi dengan berfokus pada hal yang bisa kita kendalikan yaitu mempertimbangkan respon kita terhadap mereka.

Jika ingin meluapkan emosi, namun tidak ingin membuat keributan karenanya. Kita bisa coba menuliskannya di note maupun jurnal harian. Setidaknya harus dikeluarkan karena bisa mengantisipasi perasaan emosi yang menumpuk dan bercampur aduk.

Jika ingin mengendalikannya, maka dengan mengalihkan perhatian dari penyebab kita merasa emosi. Dengan membaca buku, mendengarkan lagu, olahraga ataupun kegiatan selainnya yang membangun.

Jadi pilih yang mana? Meluapkannya atau mengendalikannya?

gambar : freepik.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 hari terakhir di bulan Februari

Sudah 2 bulan aku menyibukkan diri untuk bekerja diluar. Cukup menyenangkan dan melelahkan karena namanya juga bekerja pasti ada saja yang menjadi persoalan. Bekerja yang menyenangkan memang ada katanya, orang bilang bekerja sesuai passion yang menjadi idaman banyak orang. Sedangkan masih ada yang belum menemukan passion diri sendiri yang sebernarnya. Bahkan ada yang tidak mengenal dirinya sendiri, mau apa, suka apa, memiliki tujuan dan target apa dan berakhir upload story ‘hidup kok gini-gini aja’. Ada yang bilang kalau hidup tidak melulu soal mengejar tujuan dan target, cukup dijalani dengan begitu adanya. Tidak perlu berlari cukup berjalan dan nikmati perjalanan itu. Aku setuju pendapat itu namun tidak untuk akhir-akhir ini. Aku dijumpai beberapa persoalanku yang sudah menunggu lama untuk diselesaikan. Ternyata 2 bulan bekerja membuatku lengah dengan masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang akan aku putuskan untuk masa depanku, apakah aku akan menyelesaikan yang sudah aku mulai a...

Hikmah Dari Kematian?

Kematian merupakan hal yang masih misterius untuk diketahui yaitu kapan, dimana dan bagaimana akan terjadi pada mahluk hidup. Tidak ada yang tahu tetapi banyak yang berusaha untuk menghindari kematian itu ketika sakit langsung berobat untuk kembali sehat karena sakit merupakan salah satu jalan menuju kematian. Lalu kematian suatu makhluk hidup pastinya akan meninggalkan sesuatu, seperti hewan meninggalkan salah satu bagian tubuhnya-gajah meninggalkan gading dan manusia meninggalkan nama, pastinya sudah tidak asing dengan peribahasa itu. Tentunya manusia tidak akan mau jika mati hanya meninggalkan nama saja, mengingat adanya kebutuhan selain dari sisi spiritual juga terkait sisi aktualisasi selama hidup. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang memiliki pikiran maka apapun caranya ingin menjadi orang yang bermanfaat di sekitarnya dan dikenal sebagai sosok yang baik. Tidak ada yang tahu soal bentuk dan beberapa halaman yang akan ia tuliskan sebagai sejarah kehidupannya oleh...

The Power of Book : “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki” by Baek Se Hee.

“Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?” sebuah persembahan buku dari peyintas pasien distimia (depresi ringan yang berkepanjangan) tidak membuat penulis ingin melakukan bunuh diri, melainkan ingin memakan tteokpokki (jajanan korea yang terbuat dari beras). Buku self improvement ini berisikan catatan percakapan antara penulis dan psikiater yang menanganinya. Sehingga pembaca akan menjumpai sesi diskusi yang cukup panjang. Tiap bahasan berisi permasalahan yang berbeda dan disajikan di tiap bab yang berupa hasil konsultasi rutin penulis selama seminggu sekali. Penulis juga menyampaikan bahwa pembahasan yang disajikan bersifat pribadi dan suram, namun tidak hanya itu yang difokuskan. Melainkan menemukan pernyebab dari permasalahan tersebut melalui situasi spesifik dan berfokus pada cerita yang bergerak ke arah kehidupan yang lebih baik. Harapan penulis juga ingin memberitahukan pada orang diluar sana bahwa tidak hanya dirinya yang mera...