Langsung ke konten utama

Pemikiran Penulis Amatir

Minggu ini cukup melelahkan bagiku, memang apa yang membuatku lelah? Ya, dalam pengendalian pikiran dan perasaan yang cukup menyita perhatian sampai pekerjaan lainnya terbengkalai. Bahkan saat menulis ini aku masih saja kepikiran. Semuanya adalah tentang diriku, tentang pandanganku terhadap semua yang kualami. Yang mendominasi adalah soal penerimaan dan penyangkalan. Biasanya dalam mengisi waktu luang kupergunakan untuk membaca buku self improvement, barangkali ada yang bisa memberikan insight tentang suatu permasalahan hidup, hehe.

Dalam buku yang aku baca kali ini membicarakan tentang perasaan, perasaan akan semua keadaan. Seolah buku itu berbicara santai menyatakan bahwa lemah itu tidak apa, tidak perlu dipermasalahkan. Jika lelah, muak, dan ingin menangis, maka menangislah. Tidak usah takut soal orang-orang yang akan melabelimu lemah. Seketika itu aku berpikir, ini sama dengan artikel yang pernah ku tulis sebelumnya. Namun ternyata aku sendiri tidak bisa demikian, jujur aku menolak itu. Bagaimana bisa aku menuliskan sesuatu yang bertentangan denganku? Aku jadi memikirkan Sutan Pane dalam novel ‘Selamat Tinggal’ yang sempat aku riview. Beliau dalam karir kepenulisannya pun selaras dan tidak betentangan dengan kehidupannya.

Proses penerimaan diri yang sering membuatku kepikiran, sering mempertanyakan tentang pandanganku ini apakah cukup relevan bagi mereka? Itu yang membuat konten artikel ini muncul. Seakan melakukan rasionaliasasi dan memaksa untuk menerima pandanganku. Namun sejenak aku tersadarkan, aku hanya ingin mengeluarkan apa yang kupikirkan, maka terkait value sifatnya juga subjektif. Tidak bisa dipaksakan, dan pasti tiap orang juga berbeda.

Banyak yang menganggap semuanya akan baik pada waktunya, namun aku justru sebaliknya, semakin memburuk. Karena aku berada di lingkungan yang masih kuat akan prestige tentang capaian seorang anak. Para orang tua yang menuntut ini-itu dan masih ada istilah utang budi dimana sang anak yang sudah mengahasilkan uang harus memberikannya ke orang tuanya semua tak tersisa (ya mungkin tidak berlaku bagi orang tua yang memiliki niilai kemanusiaan). Begitu pula dalam penentuan karir, disini juga banyak sekali yang mengandalkan industri pabrik sebagai tempat mengadu nasib dan bertahan hidup. Memilih untuk bekerja pagi sampai sore bahkan jika ada lembur, mereka tetap melakukannya demi uang tambahan. Dan mereka tidak malu, toh itu bukan pekerjaan haram. So, kenapa harus malu?

Lalu bagaimana denganku? Aku sedang merintis kepenulisanku yang berawal dari bawah. Tidak ada tekanan dari atasan karena memang aku baru memulainya, dan atasannya aku sendiri bukan? Semua berjalan sesuai kehendakku, jika mau menulis ya menulis jika tidak maka tidak. Sayangnya aku masih kurang percaya diri untuk menunjukan ke semua orang pengguna internet tentang tulisanku. Banyak sekali hambatan pemikiran yang selalu hinggap di kepala seakan sudah melekat di bawah alam sadarku. Maka untuk menyebarkan luaskan tulisanku ini masih kuurungkan, dan parahnya itu terjadi secara otomatis.

Setelah itu salah satu teman yang bilang tentang tulisanku, dia memberitahukan tentang solusi masalah yang kualami. Dia menanyakan apakah aku memiliki role model (orang yang difigurkan). Seketika itu aku mengingat ada tokoh yang kufigurkan, salah satunya Kevin Anggara. Aku mengenalnya di Twitter dan melihat ada link menuju blog-nya. Maka aku menemukan tulisan-tulisannya dan yang menarik bagiku adalah awal mula ia menulis. Ada motivasi dari Kevin Anggara yang cukup ampuh merubah pola pikirku saat itu.

A writer should say to himself, not how can I get more money?, but how can I reach more readers. 

Brian Aldiss - 

Sesungguhnya, penulis yang bersemangat jauh lebih menjanjikan daripada penulis yang berbakat. 

M. Fauzil Adhim  -

Itu cukup membangun, pemikiranku kalah telak dengan kalimat motivasi itu. Kepercayaan diriku naik dan memulai merubah pemikiran yang menjadi penghambat untuk menulis. Mengenai tulisanku yang bertentangan denganku, aku berpikir dengan adanya tulisanku maka bisa membuat orang yang membaca juga bisa menerapkannya dan merubah mindset ku tentang memperlihatkan sisi lemah. Maka perlahan aku akan menerimanya. Dan mengembalikan tujuanku memulai semua ini adalah untuk memperkenalkan dunia bahwa aku ini ada, dengan menjadikannya kenang-kenangan ketika aku sudah tiada. Jadi, tidak ada alasan untuk mengurungkan tulisanku. Maka untuk pembaca yang mungkin mengalami hal yang sama denganku,

Break your box! Jangan biarkan ada yang membatasi untuk berekspresi, berkreasi dan berkarya.

gambar : storyset.com

Tautan :

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 hari terakhir di bulan Februari

Sudah 2 bulan aku menyibukkan diri untuk bekerja diluar. Cukup menyenangkan dan melelahkan karena namanya juga bekerja pasti ada saja yang menjadi persoalan. Bekerja yang menyenangkan memang ada katanya, orang bilang bekerja sesuai passion yang menjadi idaman banyak orang. Sedangkan masih ada yang belum menemukan passion diri sendiri yang sebernarnya. Bahkan ada yang tidak mengenal dirinya sendiri, mau apa, suka apa, memiliki tujuan dan target apa dan berakhir upload story ‘hidup kok gini-gini aja’. Ada yang bilang kalau hidup tidak melulu soal mengejar tujuan dan target, cukup dijalani dengan begitu adanya. Tidak perlu berlari cukup berjalan dan nikmati perjalanan itu. Aku setuju pendapat itu namun tidak untuk akhir-akhir ini. Aku dijumpai beberapa persoalanku yang sudah menunggu lama untuk diselesaikan. Ternyata 2 bulan bekerja membuatku lengah dengan masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang akan aku putuskan untuk masa depanku, apakah aku akan menyelesaikan yang sudah aku mulai a...

Hikmah Dari Kematian?

Kematian merupakan hal yang masih misterius untuk diketahui yaitu kapan, dimana dan bagaimana akan terjadi pada mahluk hidup. Tidak ada yang tahu tetapi banyak yang berusaha untuk menghindari kematian itu ketika sakit langsung berobat untuk kembali sehat karena sakit merupakan salah satu jalan menuju kematian. Lalu kematian suatu makhluk hidup pastinya akan meninggalkan sesuatu, seperti hewan meninggalkan salah satu bagian tubuhnya-gajah meninggalkan gading dan manusia meninggalkan nama, pastinya sudah tidak asing dengan peribahasa itu. Tentunya manusia tidak akan mau jika mati hanya meninggalkan nama saja, mengingat adanya kebutuhan selain dari sisi spiritual juga terkait sisi aktualisasi selama hidup. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang memiliki pikiran maka apapun caranya ingin menjadi orang yang bermanfaat di sekitarnya dan dikenal sebagai sosok yang baik. Tidak ada yang tahu soal bentuk dan beberapa halaman yang akan ia tuliskan sebagai sejarah kehidupannya oleh...

The Power of Book : “I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki” by Baek Se Hee.

“Katanya mau mati, kenapa malah memikirkan jajanan kaki lima? Apa benar kau ingin mati?” sebuah persembahan buku dari peyintas pasien distimia (depresi ringan yang berkepanjangan) tidak membuat penulis ingin melakukan bunuh diri, melainkan ingin memakan tteokpokki (jajanan korea yang terbuat dari beras). Buku self improvement ini berisikan catatan percakapan antara penulis dan psikiater yang menanganinya. Sehingga pembaca akan menjumpai sesi diskusi yang cukup panjang. Tiap bahasan berisi permasalahan yang berbeda dan disajikan di tiap bab yang berupa hasil konsultasi rutin penulis selama seminggu sekali. Penulis juga menyampaikan bahwa pembahasan yang disajikan bersifat pribadi dan suram, namun tidak hanya itu yang difokuskan. Melainkan menemukan pernyebab dari permasalahan tersebut melalui situasi spesifik dan berfokus pada cerita yang bergerak ke arah kehidupan yang lebih baik. Harapan penulis juga ingin memberitahukan pada orang diluar sana bahwa tidak hanya dirinya yang mera...