Langsung ke konten utama

Postingan

Sisi tak Terlihat

“Yuk lanjutin ngebadutnya” atau ”Badut kok sedih? Nggak boleh lemah dong.” Ungkapan itu sering muncul di media sosial Twitter, banyak cuitan yang mengangkat tokoh ikonik dalam pesta ulang tahun anak kecil itu. Maksud dari cuitan diatas berupa sarkasme terhadap diri sendiri atau hanya sebatas konten yang berarti tetap memasang wajah badut tersenyum   (konyol dan menghibur orang) walaupun sedang tidak baik-baik saja hanya untuk menutupi sisi lemahnya. Atau bisa disebut tetap beperilaku bodoh walaupun diri sudah sadar akan kebodohannya. Memang kuakui kehidupan saat ini cukup membuat manusia harus menutupi sisi lemahnya karena kerasnya dunia. Jika ngebadut menjadi alternatif untuk memperkuat diri dengan menipu diri sendiri dan orang lain, maka itu cukup melelahkan karena harus berpura-pura. Belum lagi ada potensi akan kehilangan jati dirinya karena tidak ada waktu untuk bersama sisi lemahnya. Sedikit rancu untuk dibahas sebenarnya, maka aku juga mencoba memberikan batasan apa yang akan...

Berharap ada Kisah Romansa

Banyak yang menanyakan terkait kisah yang pelik itu, baik saudara, teman, bahkan orang yang tidak terlalu dikenal. Kenapa aku menganggap kisah tersebut sangat pelik? Karena hal itu melibatkan perasaan yang cenderung sulit diatur bahkan bisa menimbulkan masalah baru dan belum tentu masalahnya akan mendapatkan titik temu. Yaa, memang kisah tersebut sangat digandrungi oleh remaja dalam masa pertumbuhan. Bahkan sampai menghabiskan semua sumber dayanya hanya demi mengejar kisah itu sebagai ‘pembelajaran’ untuk melakukan evaluasi namun masih mengulangi lagi kesalahan yang sama. Aku sendiri belum mengalami sebenarnya, hanya mendengar dari teman-teman yang menceritakan kisahnya membuat penulis juga ikut membayangkan. Karena kisah ini sangat di-idamkan remaja, pada proses pertumbuhan manusia ini dianggap masa yang paling indah. Maka masa ini disebut masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa sehingga banyak yang belum paham betul akan baik dan buruk. Karena yang mereka rasakan adalah rasa suka...

Hedonism berkedok ‘Self Healing’

‘Self healing’  sudah tidak asing di telinga ketika mengingat sebutan itu sering muncul di sosial media dan banyak sekali artikel yang membahasnya. Dari artinya saja penyembuhan diri, memang ada apa dengan diri ini? Bukankah sesuatu yang sakit harus berobat ke dokter? Tidak usah ditanya seharusnya tahu jika ada sesuatu yang tidak beres. Yang merasakan sakit adalah batin, psikis, jiwa yang merasa  ‘semruweng’  dengan aktivitas yang semakin menekan diri untuk berjalan selayaknya robot, selalu dituntut untuk melakukan inovasi demi tidak tertinggal zaman yang kian berkembang. Apalagi di dunia industri yang saling berkompetisi untuk mendapatkan peringkat lebih unggul dan menjawab semua kebutuhan zaman. Lalu mereka yang mengalami  ‘semruweng’  pada dunianya itu beralih untuk istirahat sejenak dengan mengambil cuti kerja, bisa dengan berlibur,  me time  dengan melakukan kegiatan yang disuka, dan masih banyak lagi. Tapi, mereka juga menyadarinya jika waktu ter...

Sama waktunya, beda hasilnya. Kok bisa?

24 jam dalam sehari, 30 hari dalam sebulan, dan 12 bulan dalam setahun hingga seterusnya. Waktu yang kita miliki sama dengan makhluk yang selainnya. Lalu mengenai judul, kok bisa waktu yang diberikan sama namun yang dihasilkan berbeda? Bisa dong, dengan pengelolaan waktu yang tepat, waktu yang sama ketika dipergunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat baik secara materi maupun imateri. Jika dibandingkan tanpa adanya pengelolaan waktu, penggunaannya tidak diorientasikan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat sehingga tidak menghasilkan apa-apa. Selesai sudah bahasan kita karena sudah menjawab judul diatas, namun seperti ada yang kurang ideal jika langsung mengakhiri tanpa ada yang perlu di utak-atik, hehe. Maka kita mulai dengan rumusan masalahnya, bagaimana pengelolaan waktu yang dimaksudkan? Memang apa yang dihasilkan dari pengelolaan waktu yang baik? Lalu kita buat anggapan dasar mengenai waktu yang terus berjalan setiap detiknya. Selain itu hasil yang dimaksud adalah pe...

Menjaga Kesehatan juga sebuah ‘Karya’

Innalillahi wa inna lillaihi rajiunn... Tolong keluarga saya membutuhkan plasma konvalesen.... Kalimat diatas seakan tidak pernah absen ketika melihat realitas yang kini kian memburuk, berita duka yang sering disiarkan melalui media sosial yang dijangkau oleh banyak orang sedangkan masih banyak yang kurang peduli terhadap apa yang telah terjadi dan menganggap hanyalah bisnis belaka. Penulis tidak menyalahkan siapa yang bersalah, karena mengetahui siapa yang bersalah tidak akan ada perubahan. Karena dari beberapa kebijakan pemerintah sendiri yang masih kurang tegas ditambah adanya paham konspirasi seakan menumpang kapal tetapi selalu ada saja yang melubangi kapal dan berakhir tenggelam. Namun itu semua di luar kendali dari diri kita, mereka adalah pihak eksternal yang sudah bekerja tanpa adanya tindakan kita yang mendominasi. Maka sekiranya kita cukup berfokus dalam kendali kita sendiri, yaitu dengan menjaga imunitas agar tetap stabil dan tidak mudah terserang virus. Dengan menjaga kese...

Kepedulian 🍂

“Pedulilah!!”   dan  “Kamu jangan egois, pikirkan orang di sekitarmu” , kecaman itu sering kudengar dari temanku di sekolah semasa sekolah dulu. Banyak yang menganggap diriku ini orang yang egois, mementingkan dirinya sendiri dibandingkan yang selainnya. Anggapan mengenai hal tersebut tentu saja membuatku kurang nyaman, terlepas dari kepribadian ambivert tentu saja masih relatif. Tapi adanya sifat peduli itu tidak berdasarkan dari kepribadian, banyak aspek yang perlu dibedah. Terkadang aku juga menyadarinya, bertingkah tidak tahu apa-apa dan memilih diam adalah hal baik yang kulakukan. Mengapa? Karena aku sendiri tidak mau kecewa, masih ada ketakutan yang bersarang ketika kepedulian yang aku berikan akan menyakiti perasaanku. Bagaimana bisa? Kini aku kembali bertanya, pernahkah ketika ingin membantu namun sudah ditolak? Kemudian ada yang mengira tidak peduli karena tidak ada yang membantunya. Mungkin ini dianggap spekulasi belaka, yang menjadi asumsi atau alasan untuk tidak pe...

SELF LOVE ❤

Apa alasan membenci dirinya sendiri? Apa yang melatarbelakangi hingga membuatnya kini tidak percaya diri? Masih menjadi pertanyaan oleh diri ini. Tapi mari berspekulasi bahwa diri ini tidak mampu menjadi apa yang diinginkan, tidak mau menerima apresiasi dari orang lain dan tetap menganggap bahwa dirinya memang patut dibenci. Dengan mendengar beberapa kenangan yang terlintas di kepala, bahwa ocehan orang terdekat yang ia tanamkan hingga mampu menangkal ocehan positif saat ini.  Bagaimana seperti itu? Manusia sejatinya terdiri dari jiwa dan raga, dimana jiwa yang menciptakan afeksi perasaan maupun pemikiran. Hingga disimpan berupa pengalaman rasa dan pengetahuan dibawah alam sadarnya. Namun ada yang terbawa perasaan hingga menjadi lebih menerima anggapan buruk terhadapnya. Pertimbangan perasaan inilah yang dirasa menjadi penangkal apresiasi positif. Akan adanya ingatan pengalaman rasa kekecewaan dari orang lain terhadap dirinya dan membenarkannya.  Hal itu lantas membuat dirinya...